by

Puslitbang CPCD Unhas Bahas Potensi Konflik Wilayah Pesisir dan Laut

koran.fajar.co.id, MAKASSAR  — Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Center for Peace, Conflict and Democracy (CPCD) menyelenggarakan webinar bertajuk “Peace & Democracy Qolloquium” yang mengusung tema “Kutukan atau Anugrah: Konflik di Wilayah Pesisir dan Laut”.

Kegiatan berlangsung secara virtual melalui aplikasi zoom meeting, Senin (15/3/2021) itu, hadir sebagai narasumber Bambang Priono, SH, MH (Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sulsel), Prof. Jamaluddin Jompa, Ph.D., (Dekan Sekolah Pascasarjana Unhas) dan Prof. Dr. Farida Patittingi, SH, M.Hum., (Dekan FH Unhas).

Ketua Puslitbang CPCD, Prof. Dr. Andi Alimuddin Unde, M.Si., menjelaskan dalam sambutannya kegiatan ini menjadi langkah awal peran CPCD sebagai sumber informasi dan pengembangan wawasan. CPCD diharapkan dapat memberikan sumbangsih hasil riset yang dapat dijadikan rekomendasi, khususnya pada perdamaian dan demokrasi di Indonesia Timur.

Sebagai Puslitbang yang baru di launching, CPCD terus mengoptimalkan kehadirannya untuk menjadi rujukan dalam kajian pencapaian perdamaian dan demokrasi Indonesia.

Kegiatan resmi dibuka oleh Rektor Unhas Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA. Dalam sambutannya Prof. Dwia mengatakan webinar ini menjadi forum mendengarkan pandangan berbagai disiplin ilmu, mengingat isu konflik dan perdamaian bisa dibahas dalam berbagai latar belakang keilmuan.

Tema webinar yang membahas konflik wilayah pesisir dan laut sangat penting. Sumber daya pesisir memiliki potensi besar, sehingga rentan menjadi sumber konflik. Olehnya itu, webinar ini dapat bermanfaat untuk mengidentifikasi potensi konflik pesisir dan laut, dan sekaligus menggagas alternatif solusi.

“Terima kasih kepada CPCD yang menghadirkan kegiatan ini. Kita berharap CPCD dapat berkontribusi dan menjadi media dalam mengupayakan dan mendorong terwujudnya perdamaian dan demokrasi Indonesia,” jelas Prof Dwia.

Pemaparan awal disampaikan oleh Bambang Priono. Beliau menuturkan wilayah pesisir sesuai UU No. 27 Tahun 2007 menjelaskan daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut. Kawasan ini dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut dengan ruang lingkup pengaturannya mencakup wilayah administrasi kecamatan dan ke arah laut sejauh 12 mil diukur dari garis pantai. Indonesia memiliki kurang lebih 2.098 kecamatan pesisir.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed