oleh

Influencer Sulsel Siap Bayar Pajak

FAJARKORAN.ID, MAKASSAR  — Wacana pengenaan pajak terhadap influencer atau endorse di media sosial,  kembali menjadi topik bahasan hangat.

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) 2021, akan memaksimalkan potensi penerimaan atas penghasilan profesi yang berkutat di media sosial tersebut.

Youtuber, Selebgram, dan Tiktoker serta influencer dianggap telah bisa dan mampu membayar pajak atas apa yang mereka kerjakan.  DJP melihat besarnya potensi dari pekerjaan yang diklasifikasikan sebagai wajib pajak orang kaya atau High Wealth Individual (HWI).

Konten Kreator Sulsel, Ahmad Suhael atau akrab disapa Abu ini mengatakan ia telah bertemu dengan pihak pajak sebelum ramadan. Pihak pajak meminta untuk dirincikan penghasilan mereka beberapa tahun selama ia menjadi konten kreator.

Kata Abu sapaannya– juga telah memperlihatkan secara terang-terangan berapa penghasilannya selama jadi konten kreator bersama rekannya Tumming.

“Saya pribadi dan Tumming tidak masalah, namun sebaiknya pihak pajak harus melakukan edukasi dulu penghasilan berapa dengan pajak berapa. Sehingga teman-teman influencer atau konten kreator tidak kaget,” trang Abu, Rabu (21/4/2021).

Disampaikan bagaimana posisi pekerjaan mereka. Tercatat sebagai konten kreator atau youtuber di Duo Tumming Abu, hal ini tentunya memiliki penghasilan.

Kata Abu, pihak pajak juga harus memperhatikan jika tak semua pekerja konten kreator memiliki penghasilan banyak. Mereka membuat konten belum tentu dibayar banyak.

“Paling influencer atau konten kreator yang besar itu rata-rata seleb seperti Raffi  Ahmad atau Atta Halilintar,” ungkap Abu.

Influencer dan selebgram Sulsel, Fildzah Burhan mengatakan sejauh ini ia memiliki followers di Instagram sebanyak 10,5 ribu. Terkait DJP melihat besarnya potensi dari pekerjaan influencer yang diklasifikasikan sebagai wajib pajak, dianggap wajar.

Pemeran film Maipa Deapati dan Datu Museng ini mengatakan sudah sewajarnya para influencer menjadi target paja. Pasalnya meskipun merupakan sebuah profesi baru, eksistensi mereka di ‘zaman now’ ini adalah keniscayaan dari transformasi digital.

“Youtuber, selebgram dan lainnya memiliki potensi dalam berkontribusi besar untuk pembangunan negara.  Namun otoritas pajak perlu memberikan komunikasi yang baik atau sosialisasi mendalam,” jelasnya.

Komentar

News Feed