oleh

Agustina dari Tikala

Menjelang pagi, hampir setengah jam aku bergaya di depan cermin. Ditemani senyum manis panace-panace bergambar Betharia Sonata dan Renny Jayusman, yang menempel abadi memenuhi pinggiran atas kaca cermin.

Aku mengenakan baju kain licin berkerah yang tadi malam sudah kusiapkan di sandaran kursi rotan. Juga jaket kulit tua yang katamu berbau bangsa penjajah, kubeli di kios baju cakar andalan. Berdebar aku menanti pujian lewat sinar matamu – jika kita bertemu nanti, karena belum-belum aku sudah merasa sangat tampan.

Berjalan kaki kulewati pasar pagi Rantepao, berbagi senyum dengan para indo’ penjaja sayur yang menumpuk sayur paku dan sayur gelang di atas kulit batang pisang kering di atas baka. Kuhirup udara pagi yang berbau sirih dan biji kopi gosong, sebanyak paru-paruku sudi. Dan terus berjalan melewati jembatan Malangngo’, dengan pemandangan kapal batu Landorundun yang penuh daun kering merana. Dia serupa gadis tua yang ingin menghancurkan lekuk tubuhnya sendiri.

Berbelok ke kiri aku menelusuri jalan beraspal, ada sungai di jurang kecil di bawah. Sungai mistis yang berair jernih. Masih jauh tempat yang ingin kutuju, tapi aku sudah bisa mendengar jantungmu ikut berdetak di dalam jantungku. Kugagah-gagahkan langkah kakiku, kukuatkan diri untukmu.


Aku mengenalmu setahun yang lalu, di acara malam Natal yang penuh hujan. Aku terpana dengan senyum gigi gingsulmu – yang anehnya selalu berusaha kamu sembunyikan.

Aku tidak berusaha berkenalan dengan cara-cara purbakala – berjabat tangan dan saling bertukar nama. Tapi aku bertanya ke sana ke mari – seperti detektif, kamu ini siapa? Tidak lebih dari tiga belas menit aku sudah yakin, kamu adalah cinta. Kamu gadis kecil yang manis dari dusun, namamu Agustina.

“Agustina, kamu akan jadi pacarku.” kataku sambil memandang ke bola matamu yang kecoklatan dengan pantulan-pantulan bintang dari pohon Natal. Sepersekian detik kamu terlihat kaget, kamu hampir saja menjatuhkan gelas kaca berisi minuman sirup di tangan kananmu. Ketika itu hujan pun memilih mereda, menyediakan sedikit sudut di pinggir taman buat kita untuk saling mengenal.

Komentar

News Feed