by

Aparat Dilema Tindak Bentor

KORANFAJAR, MAKASSAR – Penertiban becak bermesin motor (bentor) di Kota Makassar menemui kendala. Humanisme berhadapan dengan regulasi.

Sesuai regulasi, bentor hanya boleh beroperasi di dalam lorong alias bukan jalan utamanya. Fungsinya hanya sebagai feeder (pengumpan) di penumpang di dalam gank menuju jalan utama.

Akan tetapi, regulasi itu tak diterapkan. Bentor bahkan masuk ke jalan utama, jalan nasional, hingga ke jalur Trans-Sulawesi. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Makassar berdalih tidak punya wewenang menindak.

“Mungkin bisa-ki konfirmasi ke pihak kepolisian karena tidak ada wewenang bagi dishub melakukan penindakan,” ujar Kadishub Kota Makassar, Mario Said, Minggu, 25 April.

Berdasarkan Peraturan Wali Kota (Perwali) Dishub memang memiliki wewenang, tetapi terbatas dan hanya pada ranah parkir. Untuk tindak lanjut atas pelanggaran, menjadi otoritas kepolisian.

“(Dishub) sebatas melakukan penggembokan saja, tapi penindakannya dan penilangannya itu dilakukan oleh pihak kepolisian,” ujarnya.

Sejauh ini, bentor memang menyimpang. Di STNK tertulis roda dua, namun realitasnya diubah menjadi roda tiga. Sistem operasinya juga tak memenuhi standar, karena pengemudi berada di belakang penumpang.

“Sebenarnya bentor itu tidak diakui oleh kementerian perhubungan, apalagi sistem kemudinya tidak sesuai dengan prototipe,” kata Mario Said.

Kasatlantas Polrestabes Makassar AKBP Fatur Rahman menuturkan tidak ada regulasi membenarkan bentor beroperasi, sebab tidak masuk dalam kategori angkutan umum. Pengoperasiannya hanya berdasarkan kebijakan.

“Berbicara perihal peruntukan, memang bentor tidak bisa beroperasi, apa pun alasannya, karena bentor itu tidak punya KIR,” urai Fatur Rahman.

Berdasarkan edaran Kapolri, yang bisa dilakukan adalah operasi keselamatan dalam bentuk imbauan. Polisi tidak bisa sweeping dan menilang saat ini. Alasannya, situasi sedang pandemi.

“Ini kondisi masih Covid, jadi faktor sosial, kebutuhan masyarakat meningkat,” katanya.

Untuk penindakan bentor, ada beberapa langkah yang telah dilakukan. Sejauh ini hasilnya tidak terlalu maksimal, sebab pribadi dari tukang bentor yang tidak sadar akan hal itu.

“Kita datangi langsung sentuh, terus kita memberi pencerahan. Hanya, pengawasan polisi tidak bisa 24 jam. Jadi untuk Unit Dikyasa itu memberikan pengertian, namun begitu perilaku manusia, kayak orang mendengar ceramah-ji tiba-tiba tobat-ki, setelah itu na-langgarki lagi,” terangnya. (sae/zuk)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed