by

Poros Literasi Wulandadari Yogya-Makassar

Kehadiran Aan di Yogya itu mengingatkan saya sosok Karaeng Galesong, salah satu kader Hasanuddin yang pandai dan lincah. Ia datang ke Mataram (nama lama Yogya) dengan misi membantu menggulingkan Raja Amangkurat I yang lalim.

Oleh para pembangkang yang berkumpul di Bayat, Klaten (timur Yogya), Panembahan Kajoran diyakinkan Trunojoyo bahwa Karaeng Galesong adalah putra Bugis yang pandai dan cekatan. Galesong pun diberikan tugas memimpin lembaga intelijen. Kerja mata-mata adalah kerja yang melibatkan dua hal sekaligus: kemawasan dan kecerdikan intelektual.

Setidaknya, saat Bondan Nusantara di roman Rembulan Ungu menggambarkan sosok Karaeng Galesong, bayangan saya langsung tertuju pada pemuda cerdas bermata elang. Ia harus berhadapan dengan jagoan-jagoan Mataram yang direkrut dari pendekar hitam dari Merbabu, Alas Lodaya, Gua Cerme, Lembah Tidar, dan Nusakambangan.

Bondan Nusantara yang merupakan sutradara ketoprak legendaris di Yogya bukan kebetulan belaka memberi poin tinggi bagi biografi Karaeng Galesong. Selain sebagai penyintas ’65, Bondan bisa melihat secara jernih keperwiraan anak muda Makassar buronan VOC berkategori A yang kabur ke Madura dan membantu “revolusi” di bumi Mataram.

Keperwiraan manusia Makassar (di Yogya, semua suku dari Sulsel disebut rata dengan “Bugis”) kemudian diabadikan dengan kampung. Yang satu bernama Dhaengan (berasal dari kata “daeng”, sebutan untuk kasta umum), satunya lagi Bugisan. Saya jarang melewati Dhaengan di Mantrijeron. Yang nyaris setiap hari saya lalui adalah Bugisan di sisi barat Kraton Yogya.

Bugisan atau Jalan Bugisan kini identik dengan seni lantaran sekolah menengah seni rupa dan musik tertua di Indonesia berada di Bugisan. Di Jalan Bugisan ini juga berdiri satu sekolah kader muda paling penting Muhammadiyah, yakni Muallimin.

Penghormatan Yogya kepada Makassar bukan saja dari penamaan kampung, penamaan jalan, tetapi ditambatkan dalam prosesi upacara besar.

Dalam pawai keprajuritan, panji prajurit Bugisan disimbolkan wulandadari, bendera persegi panjang dengan warna dasar hitam dengan lingkaran kuning emas di tengah. Emas di atas hitam bermakna Bugis selalu memberi terang dalam gelap. Hal itu bermakna prajurit berzirah Bugis diharapkan selalu memberikan penerangan dalam kegelapan.

News Feed