oleh

Krisis Nil, Ethiopia Siapkan Jet Tempur Hadapi Ancaman Mesir dan Sudan

FAJARKORAN.CO.ID, ETHIOPIA  — Tensi antara Mesir dan Sudan terhadap Ethiopia terkait pembagian air Sungai Nil semakin tinggi. Panglima Angkatan Udara Ethiopia Jenderal Yilma Merdasa menegaskan tentaranya dalam formasi sempurna dan siap melindungi negaranya dari agresi negara asing manapun.

Direktur Kajian Timur Tengah, Amirullah Kandu, Senin (7/6/2021) melaporkan, pernyataan tersebut muncul menyusul peringatan Mesir terhadap Ethiopia akibat dinilai melakukan monopoli aliran Sungai Nil dengan mengaktifkan Bendungan Renaisans. Sementara itu, Sudan juga ikut mengutuk sikap Ethiopia yang dianggap keras kepala dan egois di dalam mengatasi masalah krisis pembagian air Sungai Nil.

Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed menyangkal tuduhan Mesir dan Sudan. Dia mengatakan bahwa Mesir dan Sudan justru akan mendapat manfaat dari kehadiran Bendungan Renaisans, namun pihaknya meminta kedua negara itu bersabar sampai pembangunan Bendungan tersebut selesai.

Menteri Luar Negeri Sudan, Maryam Al-Sadiq Al-Mahdi, memperingatkan jika Ethiopia tetap bersikeras melanjutkan pembangunan tanpa tercapainya kesepakatan terlebih dahulu antara ketiga negara -–Mesir, Sudan, dan Ethiopia—, maka kemungkinan besar Ethiopia akan menerima konsekuensi yang tidak menyenangkan, meski Sudan akan mengedepankan penyelesaian masalah melalui mediasi Uni Afrika.

Bendungan Renaisans Ethiopia sebelumnya dikenal sebagai Bendungan Milenium, dibangun sejak 2011 di muara Sungai Nil. Bendungan ini terletak di Benishangul-Gumuz Ethiopia, 15 km arah timur dari perbatasan Ethiopia-Sudan.

Bendungan ini dibangun Ethiopia sebagai sumber tenaga listrik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan sekaligus untuk keperluan ekspor listrik ke negara-negara tetangga. Bendungan ini diharapkan menjadi pembangkit listrik tenaga air terbesar di Afrika dan terbesar ketujuh di dunia, dengan kapasitas yang direncanakan sebesar 6,45 GW.

Negara-negara yang berada di aliran Sungai Nil mengadakan perjanjian pertama untuk pembagian aliran Sungai Nil -–Mesir yang diwakili Inggris, Sudan, dan Ethiopia pada tahun 1902 di Addis Ababa, ibu kota Ethiopia. Salah satu butir dari perjanjian tersebut adalah tidak mendirikan proyek apapun di muara sungai. 

Selanjutnya, muncul kesepakatan antara Inggris dan Prancis pada tahun 1906, lalu kesepakatan lain pada tahun 1929, dan kesepakatan ini termasuk pengakuan oleh negara-negara lain bahwa cekungan Mesir adalah bagian dari aliran Sungai Nil, dan bahwa Mesir memiliki hak untuk menolak jika negara-negara yang dilalui aliran sungai ini membangun proyek baru di sungai dan anak-anak sungainya.

Komentar

News Feed