oleh

Pembangunan Ekonomi Ramah Alam

Oleh:

H.M. Amir Uskara

(Ketua Fraksi PPP DPR RI)

PEMBANGUNAN ekonomi yang mengeksploitasi sumberdaya alam (SDA) niscaya akan merusak habitat manusia. Ini terjadi karena kemampuan alam untuk memenuhi  kepuasan hidup    “homo econonicus” sangat terbatas. Pinjam istilah bapak spiritual dan tokoh nasional India,  Mahatma   Gandhi, alam mampu untuk memenuhi kebutuhan manusia. Tapi alam tidak mampu memenuhi keserakahan manusia.

Homo economicus — sebuah istilah untuk manusia sebagai  aktor ekonomi yang diperkenalkan pertama kali oleh John Stuart Mill di abad ke-19 — salah satu ciri pokoknya, adalah “tidak pernah merasa puas”. Jika sebuah tujuan manusia tercapai, niscaya akan muncul tujuan lain yan lebih besar. Manusia tidak pernah merasa puas dalam mencapai tujuan hidupnya. Sampai “kepuasan” itu sendiri merenggut hidupnya (mati).

Kondisi ini  akan berlangsung terus menerus dan korbannya adalah alam. Eksploitasi terhadap alam oleh manusia makin lama makin besar sehingga lingkungan hidup manusia pun rusak. Kondisi inilah yang dikritik Allah dalam Alquran, bahwa “manusia itu  merasa sedang membangun, padahal sesungguhnya sedang merusak (QS 2: 11-12). Itulah salah karakter homo economicus yang destruktif terhadap alam. Merasa membangun, tapi sesungguhnya merusak.

Ramah Alam

Dalam memperingati hari Lingkungan Hidup 5 Juni 2021, PBB secara khusus mengambil tema “Ecosystem Restoration for People, Nature, and Climate”. Tema tersebut sangat mengena ketika dewasa ini manusia tengah cemas menghadapi berbagai bencana alam akibat global warming.

Bencana global warming  dalam lingkup terestrial “connecting to” bencana alam akibat kekacauan siklus hidrometeorologi di tingkat lokal. Banjir di Jakarta, longsor di Banyuwangi, dan banjir bandang di Flores Timur misalnya, merupakan dampak langsung dari kekacauan iklim akibat global warming. Dalam konteks inilah, kerisauan PBB terhadap kerusakan lingkungan makin serius.

Namun demikian, PBB masih tetap menaruh harapan — bahwa masih ada kesempatan manusia untuk merestorasi ekosistem. Untuk memperbaiki kerusakan alam dan iklim yang menjadi pemicu berbagai bencana di muka  bumi.

Komentar

News Feed