by

Pembangunan Ekonomi Ramah Alam

“Dunia masih punya waktu untuk merestorasi kerusakan lingkungan yang terjadi selama ini. Namun aksi ini memerlukan komitmen politik, riset, dan pendanaan berkelanjutan,” kata Sekjen PBB Antonio Guterres melalui video dalam peringatan Hari Lingkungan Sedunia, Sabtu (5/2/2021).

Lebih jauh Guiterres mengatakan, “Kita harus terus menerus memperbaiki ekosistem yang menopang kehidupan kita sendiri. Kita telah kehilangan sumber makanan sehat, air bersih, dan sumber daya lain untuk bertahan hidup akibat kerusakan lingkungan tadi.”

Benar!  Apa yang dikatakan Guiterres kini benar-benar telah muncul di depan mata kita. Hutan tropis Indonesia dan Brazil — yang luasnya lebih dari 75 persen hutan tropis dunia — kini rusak parah akibat industri kayu, kertas (pulp),  dan penebangan liar. Padahal hutan tropis tersebut adalah paru-paru bumi.

Sementara itu, air laut sudah tercemar sampah beracun dan  plastik. Dahsyatnya pencemaran plastik itu sudah mencapai laut dalam. Ikan-ikan yang hidup di lepas pantai dan laut dalam seperti ikan tuna, ikan lentera, viperfish, dan spesies eelpout, misalnya, kini tubuhnya sudah tercemar molekul plastik (berbagai macam jenis molekul polyethylene). Sedangkan udara sudah penuh polusi partikel beracun dan gas rumah kaca.

Bahkan gas rumah kaca — seperti karbon dioksida, natrium oksida,  dan sulfur oksida  yang umumnya berasal dari emisi kendaraan bermotor dan pabrik berbahan bakar hidrokarbon — kini telah menimbulkan masalah besar di atmosfir. Gas rumah kaca inilah biang keladi yang merusak atmosfir bumi, sehingga memicu global warming atau kenaikan suhu bumi.

Kondisi pencemaran lingkungan seperti gambaran di atas itulah yang membuat “bumi” — pinjam istilah Isaac Asimov — “marah”.  Tulis Isaac Asimov dan Frederik Pohl dalam bukunya yang sangat terkenal “Our Angry Earth” — bumi marah kepada manusia yang telah menyakitinya. Ya, manusia telah menyakiti bumi dengan cara mengeksploitasi kekayaannya dengan serakah dan semena-mena. Akibatnya bumi pun marah kepada manusia. Banjir bandang, longsor, dan badai adalah bentuk kemarahan bumi terhadap manusia serakah yang tidak pernah puas itu.

News Feed