by

Citra Perempuan dalam Layar Kaca

FAJARKORAN.CO,IDDaenerys Stormborn dari House of the Targeryan menjadi contoh yang sempurna bagaimana perempuan ditampilkan dalam film. Perempuan di dalam film kerap kali menjadi objek pasif dibandingkan subjek yang aktif dalam narasi cerita. Perempuan hanya menjadi pelengkap cerita dari narasi yang maskulin di mana karakter laki-laki menjadi pemeran utama. Lalu bagaimana dengan Game of Throne (GOT) menempatkan Mother of Dragons dalam narasi ceritanya?

Sejak pertama kali kemunculan karakter Daenerys, ia yang merupakan keturunan terakhir dari House of the Targaryan, keluarga penguasa Seven Kingdoms, ditampilkan powerful. Dany memiliki tiga ekor naga, simbolik atas kekuatan luar biasa yang tidak dimiliki kerajaan lainnya. Dengan ketiga naganya, suku Dothraki dan pasukan Unsullied, serta beberapa kerajaan takluk ditangannya. Pasukan musuh dibuat bertekuk lutut dan berbalik mengabdi kepadanya. Ia berkeliling kerajaan, menaklukkan kerajaan lainnya dalam misinya menyatukan kembali Seven Kingdoms dan membebaskan rakyat dari tirani penguasa.

Hingga season tujuh Dany menjadi perwujudan penguasa perempuan yang hebat dan mampu memimpin pasukan yang mayoritas laki-laki. Lantas bagaimana ia dicitrakan di season ke delapan yang menjadi season pamungkas?

Bisa dikatakan di season inilah sifat lain dari Dany dimunculkan. Ia ditunjukkan sebagai diri yang tamak. Ia berambisi menjadi ratu bagi tujuh kerajaan termasuk Winterfell wilayah kekuasaan House of Stark. Namun keinginannya ditolak oleh Sansa Stark pemimpin di Winterfell yang juga merupakan sosok perempuan. Penolakan tersebut membuat ia bersama pasukannya lalu beralih menuju ke Iron Throne untuk menaklukkan Cersey, pemipin perempuan di sana.

Laura Mulvey dalam tulisannya mengenai kenikmatan visual dalam sinema naratif mengatakan bahwa sosok perempuan di dalam film dijadikan objek hasrat oleh laki-laki. Mulvey mengatakan ada dua cara menghasrati perempuan yaitu difetiskan dan diberikan tindakan sadis. Kesenangan penonton dalam melihat film dikarenakan kita (penonton) mengidentifikasi karakter perempuan dengan lack atau kekurangan.

Di GOT, kemampuan yang dimiliki oleh Dany sangat besar sehingga ia “perlu” dibuat merasakan lack dengan kehilangan orang-orang kepercayaannya. Saat perang melawan Night King, ia kehilangan Jorah Mormont, seseorang yang amat mencintainya dan rela mati demi sang ratu. Kemudian dalam upayanya bernegosiasi dengan Cersey, perempuan yang selalu menemaninya, Missandei, harus meregang nyawa. Belum lagi, ia harus merasakan kehilangan salah satu naganya, yang dianggap sebagai anaknya sendiri. Sansa yang telah dibantunya melawan Night King bahkan menolak keinginannya menjadi ratu di seven kingdoms.

News Feed