by

Citra Perempuan dalam Layar Kaca

Bertubi-tubi kehilangan ini membuat Dany gelap mata. Ia juga dipaksa menerima kenyataan bahwa laki-laki yang dicintainya, Jon Snow merupakan Aeron Targeryan atau keponakannya sendiri. Ia kemudian digambarkan tak lagi bisa berpikiran jernih untuk menyatukan Westeros. Keinginannya dilandasi oleh amarah balas dendam dengan menaklukkan Iron Throne.

Mulvey menyebut situasi ini menunjukkan sinema yang bias perspektif laki-laki sehingga harus memberikan tindakan sadis terhadap perempuan. Misalnya, di dalam episode The Bells, amarah dari Dany benar-benar diekspose. Ia tidak hanya membunuh Cersey tetapi membumihanguskan Iron Throne bersama rakyat jelata yang sebelumnya ingin ia bebaskan dari tirani. Ia berubah wujud menjadi Mad Queen, mereproduksi istilah Mad King julukan yang disematkan kepada ayahnya. Nasehat dari tangan kanannya, Tyrion dan kekasihnya Jon Snow tak lagi diacuhkan. Ia digambarkan telah dikuasai oleh amarah dan emosi sehingga dan ambisi untuk menguasai Iron Throne. Tindakan sadis yang dimaksud Mulvey seperti bentuk hukuman dan penghakiman terhadap perempuan. Dany dihukum dengan kehilangan orang kepercayaannya hingga kehilangan kontrol atas dirinya. Hal ini juga merupakan bentuk penghasratan terhadap perempuan. Perempuan dicitrakan memiliki kekurangan sehingga laki-laki menganggap dirinya sebagai sosok sempurna.

Pada kajian psikoanalisis Dany yang powerful dapat diasumsikan sebagai ancaman pengebirian terhadap laki-laki. Laura Mulvey menyebutkan laki-laki selalu takut akan kebiri dari perempuan. Pada episode terakhir, The Irone Throne, Tyrion ditangkap karena dianggap berkhianat terhadap sang ratu. Sejenak setelah Dany menduduki tahta Iron Throne, Jon Snow sebagai representasi laki-laki yang takut dikebiri kemudian melakukan pengkhianatan. Jon Snow menikam Daenerys tepat dijantungnya dalam sebuah adegan ciuman.

Ia meninggal seketika tanpa kata-kata perpisahan seperti kebanyakan film lainnya. Dari banyak peperangan hebat yang dilewatinya, ia terbunuh dengan mudahnya. Tragisnya lagi, ia dibunuh oleh orang dicintainya atau keponakannya sendiri. Dany tidak diberi lagi ruang untuk bernegosiasi dengannya. Ia dianggap terlalu kuat dan Jon Snow takut tak mampu mengendalikannya. Di dalam struktur masyarakat yang patriakri, perempuan merupakan the second sex yang berada dibawah kendali laki-laki. Pemberian tindakan sadis terhadap Dany bisa dikatakan merupakan reproduksi stereotip bahwa perempuan tidak bisa menjadi pemimpin karena tidak mampu mengendalikan emosi.

News Feed