by

Sengketa Sungai Nil, Liga Arab Sidang Darurat

FAJARKORAN.CO.ID, DOHA –- Akibat sengketa pembagian aliran sungai Nil tidak kunjung menemui titik terang, Liga Arab lantas menggelar sidang darurat di Doha, Selasa (15/6/2021).

Direktur Kajian Timur Tengah, Amirullah Kandu, melaporkan, pertemuan tersebut bertujuan untuk menemukan solusi diplomatik ketimbang menempuh jalur militer di dalam menyelesaikan permasalahan akibat dibangunnya Bendungan Renaisans oleh Ethiopia di hulu sungai Nil. Liga Arab juga menyeru Dewan Keamanan PBB untuk ikut membantu menyelesaian sengketa sungai Nil. 

Upaya Liga Arab ini ditentang keras oleh Ethiopia. Kementerian Luar Negeri Ethiopia menyatakan ketidakpuasannya dengan keputusan Dewan Menteri Liga Arab yang dihasilkan dari pertemuan kemarin. Pihak Ethiopia menyatakan penolakan dan menganggap pertemuan Liga Arab sebagai upaya untuk menginternasionalisasikan dan mempolitisasi sengketa sungai Nil yang seyoganya bisa diselesaikan secara intern antara Sudan dan Mesir.

Ethiopia juga menolak syarat yang ditetapkan oleh Liga Arab terkait pengisian waduk bendungan, dan  menuduh Liga Arab mengutamakan prioritas keamanan air untuk negara-negara hilir tanpa mempertimbangkan kepentingan negara hulu. Ethiopia menyebut Liga Arab berpihak kepada Sudan dan Mesir, karena menurut pihaknya pembangunan bendungan tersebut tidak melanggar hukum internsional dan  pengisian volume air Bendungan Renaisans akan berlangsung tepat waktu dan tidak perlu didiskusikan.

Di lain pihak, Menteri Irigasi Sudan, Yasser Abbas, mengatakan bahwa negaranya menjadi lebih terbuka untuk bekerja sama dengan negara-negara di Lembah Nil Timur. Abbas menegaskan bahwa Sudan menerima sebagian perjanjian sementara untuk sambil negosisasi dan diplomasi terus berlanjut hingga akhirnya bendungan itu selesai dan aliran air ke Sudan dan Mesir tidak terganggu.

Laih halinya dengan Sudan. Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry mengatakan bahwa negaranya sedang mencari solusi diplomatik untuk krisis Bendungan Renaissance. Mesir masih mengedepankan diplomasi untuk menyelesaikan ketegangan dengan Ethiopia.

Pihak Mesir dan Sudan mengeluarkan pernyataan bersama Rabu lalu di mana mereka menekankan pentingnya mengkoordinasikan upaya kedua negara di tingkat regional, kontinental dan internasional untuk mendorong Ethiopia agar berunding secara serius, dengan itikad baik dan dengan kemauan politik yang nyata dalam rangka untuk mencapai kesepakatan yang komprehensif, adil dan mengikat secara hukum tentang pengisian dan pengoperasian Bendungan Renaissance, setelah negosiasi yang disponsori oleh Uni Afrika terhenti.

News Feed