by

Jejak Istana Kisra dan Makam Salman Al-Farisi di Kota Madain, Irak

Oleh:

Amirullah Kandu

(Direktur Kajian Timur Tengah)

MADAIN merupakan salah satu kota tua di Irak, terletak sekitar 30 Km Tenggara Kota Baghdad ke arah Kota Kut. Madain dibangun pertama kali oleh Raja legendaris Iran Tahmuras, kemudian dikembangkan oleh Raja Makedonia Alexander Agung yang memerintah dari tahun 356 hingga 323 SM. 

Madain dikenal juga dengan nama Ctesipon yang menjadi ibuko Dinasti Sassanid penganut agama Zoroaster. Nama Madain (bentuk plural dari kata “kota” dalam bahasa Arab) muncul karena Dinasti Sassanid berhasil menjadikan kota ini sebagai kota metropolis pada saat itu.

Wilayah kekuasaaan Sassanid membentang dari Iran pada zaman sekarang, Irak, sebagian wilayah dari Armenia dan Afghanistan, bagian timur Turki, dan sebagian dari Pakistan. 

Nama Sassanid merujuk kepada pendeta Zoroaster Sasan, yang merupakan kakek dari raja Sassanid pertama Ardashir I. Ardashir I inilah yang mendirikan Dinasti Sassanid setelah berhasil mengalahkan Artbatnus IV seorang penguasa Persia Kuno (247 SM-224 M) yang kekaisarannya dikenal dengan nama Arscidian.

Istana Kisra mulai dibangun pada masa pemerintahan Khosrao I, dikenal juga dengan nama Anushirwan setelah ia berhasil menaklukan Kekaisaran Bizantium pada tahun 540 M. Istana kisra memiliki tinggi sekitar 50 meter, panjang 84 meter, lebar 26 meter, dan lengkungan 37 meter. Istana ini dianggap salah satu bangunan terbesar yang ada di zaman itu, dan menjadi pusat dari agama Zoroaster, penyembah api. Ketika Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada tahun 571 M, api di istana Kisra ini tiba-tiba padam.

Makam Salman Al-Farisi berada di dalam Masjid Salman Al-Farisi. Foto: Amirullah Kandu

Nama Madain lebih populer lagi dengan melekatnya nama Salman Al-Farisi di kota ini. Salman al-Farisi adalah seorang Persia yang lahir dengan nama Ruzbeh Khoshnudan di kota Kazerun di Provinsi Fars, atau Isfahan di Provinsi Isfahan. Enam belas tahun pertama hidupnya difokuskan untuk belajar menjadi pendeta Zoroaster.

Awal kariernya sebagai penjaga kuil api, yang merupakan pekerjaan yang dihormati. Tiga tahun kemudian pada tahun 587 ia bertemu dengan kelompok Kristen Nestorian dan terkesan oleh ajaran mereka, dan akhirnya dia meninggalkan keluarganya untuk bergabung dengan kelompok ini.

News Feed