by

Milad Ke-29, FK UMI Gelar International Seminar ‘Medicine and Islamic Civilization’

Prof. Hatta Fattah mengapresiasi terselenggaranya International Seminar FK UMI. Dalam rangka Milad ke-67, UMI bersiap menuju world class university. “Insya allah tahun ini UMI Akan menyelenggarakan program kelas Internasional, semoga FK UMI juga turut berpartisipasi,” ungkapnya.

Dalam sesi seminar, Prof. Nasaruddin Umar menjelaskan tentang perkembangan dunia kedokteran dalam sejarah Islam. Ia mencontohkan seorang tokoh Islam bernama Ibnu Sina. “Dia adalah seorang farmakolog, hingga disebut raja kedokteran, dan dia menciptakan obat-obatan yang sangat terkenal,” jelasnya.

Selanjutnya ar-Razi yang juga raja rumah sakit, dan beberapa tokoh Islam di bidang kedokteran. Dunia kedokteran pada abad pertengahan itu jaya, bahkan sampai sekarang ini. “Dua puluh tujuh ilmuan tersohor pada waktu itu semuanya adalah orang islam dan produktif. Semoga Fakultas Kedokteran UMI bisa melahirkan orang-orang seperti Ibnu Sina baru, ar-Razi baru dan ilmuan Islam lainnya,” tuturnya.

Pada sesi kedua, dr. Nasrudin memaparkan tentang “Patient Safety” dan “Etika Kedokteran dan Kehormatan Jabatan Dokter”. dr. Nasrudin mengatakan, patient safety bertujuan menciptakan budaya keselamatan pasien di rumah sakit, meningkatkan akuntabilitas rumah sakit terhadap masyarakat, dan menurunkan kejadian tidak diharapkan.

Menurutnya, ada tujuh langkah keselamatan pasien. Pertama, membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien. Kedua, memimpin dan mendukung staf untuk komit dan fokus pada keselamatan pasien. Ketiga, mengintegrasikan aktivitas pengelolaan risiko. Keempat, mengembangkan sistem pelaporan.

Kelima, melibatkan dan berkomunikasi terbuka dengan pasien dan keluarga pasien. Keenam, belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien. “Ketujuh, cegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien,” urainya.

Berbicara etika kedokteran dan kehormatan jabatan kedokteran, dr. Nasrudin mengajak para dokter untuk membudayakan komunikasi yang baik dengan pasien. “Disiplin sesuai dengan etika, hukum dan moral profesi dokter,” katanya.

Menurutnya, ada dua belas karakter seorang dokter islami. “Salah satunya adalah integratif (tauhidi), seimbang (tawazun), holistik (shumulli), berkualitas unggul (ihsan), dan mengikuti syariah (maqasid al shariat),” pungkasnya. (wis/mukhlis/fajar)

News Feed