oleh

“Pangeran” Jadi “Dewi Fortuna” di Balik Pandemi

FAJARKORAN.CO.ID, TANA TORAJA –- Sejak wabah virus covid-19 merebak luas menjadi pandemi, pemerintah menetapkan kebijakan untuk melarang kegiatan yang bersifat massal dan menciptakan mobilisasi massa, kehidupan Andi Pangeran Tandilangi Parassa (29) berubah total.

Ia yang sehari-hari berprofesi wiraswasta di kampungnya, Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel), telah kehilangan sejumlah sumber pendapatan. Hampir semua klien maupun koleganya membatalkan atau menunda pekerjaan hingga waktu yang belum ditentukan. Praktis, sumber pendapatannya menguap.

Meski begitu, di balik pandemi Covid-19 telah memberi Pangeran –begitu ia akrab disapa–, banyak pelajaran. Di saat banyak orang mengeluh, putus asa, berteriak meminta bantuan, Pangeran yang notabene juga kehilangan sumber pendapatan, memilih untuk tetap bertahan.

Memang, diakui pandemi Covid-19 telah meluluhlantakkan banyak impian dan cita-cita. Namun bukan berarti putus harapan dan tidak bisa beradaptasi dengan keadaan serta perubahan. “Ketimbang memaki kegelapan, saya memilih menyalakan lilin,” ungkap Andi Pangeran Tandilangi Parassa, Rabu (23/6/2021).  

Pangeran tak kehabisan akal. Kendati hampir 90 persen ladang penghasilan rutinnya lenyap. Bahkan dirinya sempat stres selama beberapa hari menghadapi kondisi itu. Beruntung, lingkungan pertemanan membuatnya bisa move on, berpikir lebih jernih dan solutif. Diskusi bersama beberapa temannya menjadi titik balik Pangeran yang alumni SMAN 1 Sangalla Toraja ini dalam menghadapi krisis yang menimpanya.

“Saat itu saya tersadar bahwa investasi itu bukan cuma dalam bentuk uang atau finansial. Yang saya rasakan, investasi pertemanan pun sesungguhnya jauh lebih bisa bermanfaat di situasi seperti sekarang ini,” ujarnya.

Anak dari pasangan Haris Tandilangi’ Parassa dan Andi Nurhayati ini memilih banting stir dengan menggeluti dunia digital secara otodidak. “Saya mulai belajar koding, sistem platform daring dan segala hal terkait pengetahuan digitalisasi. Yah… boleh dibilang ini sebuah kecelakaan jika melihat latarbelakang pendidikan saya. Tapi sudahlah, pokoknya bagi saya selama ada kemauan disitu pasti ada jalan,” cerita pemuda jebolan sarjana psikologi dan magister hukum ini.   

Pada saat itu, Pangeran mencoba berinovasi dengan membuat software platfrom daring yang diberinama ‘Halo Tukang’ untuk membantu masyarakat yang membutuhkan layanan jasa konstruksi. Namun progresnya tidak selaju dengan aplikasi transportasi online lokal ‘MalaTrans’ yang dirintisnya pada awal April 2021. Meski mulanya tak banyak diberitakan, diam-diam startup karya Pangeran ini telah menjelma menjadi ‘buah bibir’ di tengah masyarakat kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara.  Bahkan ia mengklaim MalaTrans siap bersaing dengan startup decacorn dan unicorn lainnya.

News Feed