by

Mesir Peringati Revolusi 30 Juni Jatuhnya Ikhwanul Muslimin

FAJARKORAN.CO.ID, BAGHDAD — Mesir kembali memperingati jatuhnya pemerintahan Ikhwanul Muslimin, Muhammad Mursi, yang memenangkan pemilihan presiden Mesir pada 24 Juni 2012 lalu, dengan 51% suara.

Beselang 1 tahun setelah kemenangannya, jutaan orang Mesir menyerukan revolusi untuk menggulingkan kekuasaan Ikhwanul Muslimin yang masuk dalam daftar kelompok teroris oleh Pemerintah Mesir.   

Seperti disampaikan Direktur Kajian Timur Tengah, Amirullah Kandu, dalam siaran persnya, Rabu (30/6/2021) menyatakan, beberapa analis politik Mesir menilai bahwa Revolusi 30 Juni tidak hanya menghentikan gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, namun termasuk pula Ikhwanul Muslimin di beberapa wilayah di kawasan Timur Tengah.

“Para analis ini menegaskan, revolusi 30 Juni adalah gerakan yang tepat untuk membebaskan negara dari cengkraman teroris yang mencoba menghancurkan identitas negara dan tatanan kehidupan rakyat Mesir,” ungkap Amirullah Kandu.

Dijelaskan Amirullah Kandu, jatuhnya kekuasaan Ikhwanul Muslimin bagi para analis ini adalah bukti nyata keberhasilan dari pihak keamanan Mesir di dalam mematikan sel-sel kelompok tersebut yang sangat berbahaya bagi negara.

Kelompok ini menggunakan pendekatan ekslusi dan arogansi terhadap rakyat mesir, meskipun slogan mereka adalah: “kami membawa kebaikan untuk Mesir.”

Sementara itu, Dr. Dalal Mahmoud, seorang Guru Besar Ilmu Politik di Universitas Kairo, mengatakan dalam sebuah wawancara media luar bahwa Revolusi Juni dengan jelas mengungkapkan esensi rakyat Mesir di saat-saat yang menentukan, ketika massa merasakan bahaya nyata bagi negara, yang datang dari kelompok Ikhwanul Muslimin yang ingin mengubah lembaga negara menjadi lembaga Ikhwanul Muslimin.

Mahmoud menekankan, elemen utama kesuksesan adalah kohesi rakyat dengan negara untuk melestarikan ideologi negara.

Amr Farouk, seorang peneliti gerakan Islam menyebut bahwa Revolusi 30 Juni benar-benar menghentikan gelombang Ikhwanul Muslimin tidak hanya di Mesir, tetapi di wilayah Arab, terutama karena kelompok tersebut tidak lain adalah kelompok ekstrimis atau fundamentalis ekstrimis.

Farouk juga menyoroti, revolusi tersebut juga membatalkan proyek Ikhwanul Muslimin untuk mengatur sendi-sendri kehidupan rakyat Mesir dan mengganti ideologi negara.

News Feed