by

Narasumber Berbagai Negara Hadir pada Webinar Pengembangan Rumput Laut Unhas

FAJAR.KORAN.CO.ID, MAKASSAR  — Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui Sekolah Pascasarjana kerja sama The Center of Excellence for Marine Resilince and Sustainable Development (MARSAVE) dan GENIALG menghadirkan webinar bertajuk “Tropical Phyconomy Coalition Development”. Kegiatan berlangsung secara daring melalui aplikasi zoom meeting, Rabu-Kamis (7-8/7/2021).

Rektor Unhas Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA, ketika membuka kegiatan ini, memberikan apresiasi kepada Sekolah Pascasarjana dan para mitra dalam webinar ini. “Webinar seperti ini sangat bermanfaat untuk wadah pengembangan keilmuan melalui diskusi dan berbagi pengalaman penelitian,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Prof. Dwia menambahkan, Unhas secara aktif melakukan berbagai kajian riset, salah satunya terkait budidaya rumput laut.

“Kita berharap pandemi ini bisa segera berlalu dan para peneliti bisa berkunjung langsung ke Unhas untuk bertemu dan berdiskusi. Topik hari ini sangat menarik untuk dibahas mengingat dalam proses pembudidayaan rumput laut di wilayah sub-tropis dan perairan tropis tentu ada tantangan tersendiri yang dihadapi,” jelas Prof. Dwia.

Dalam kesempatan yang sama, Dekan Sekolah Pascasarjana Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, Ph.D., memaparkan materi tentang “Oppurtunities for Stengthening the Indonesia Seaweed Penta-Helix Through Collaboration”.

Prof. Jamal menjelaskan Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri rumput laut yang memiliki daya saing global dari segi kuantitas, jenis dan kualitas. Dengan potensi budidaya dan keanekaragaman yang tinggi, Indonesia memiliki peluang mengembangkan berbagai jenis produk rumput laut baik untuk pangan, kosmetik, obat-obatan hingga pakan ternak.

Rumput laut dapat mendukung ketahanan pangan, bahkan dapat berkontribusi pada pangan dunia. Kebutuhan rumput laut sebagai sumber protein alternatif sangat potensial untuk dikembangkan. Budidaya rumput laut secara massal juga sekaligus mampu mendukung mitigasi perubahan iklim dan pencapaian target SDGs.

“Untuk mencapai target menjadi produsen komoditas olahan rumput laut terbesar dunia, Indonesia perlu mengadaptasi model kolaborasi penta-helix yang inovatif. Pemerintah, akademisi, industri, komunitas dan media dengan peran serta kontribusi mereka sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang tepat,” jelas Prof. Jamal.

News Feed