by

Darul Istiqamah Lakukan Transformasi setelah Setengah Abad

FAJAR.KORAN.CO.ID, MAROS  — Sudah lebih dari setengah abad berkiprah (berdiri 1970), Pesantren Darul Istiqamah yang berpusat di Maccopa, Kabupaten Maros menggenjot transformasi. Perubahan-perubahan dilakukan untuk menyesuaikan “diri” dengan zaman.

Pembina Yayasan Darul Istiqamah, Muzayyin Arif menuturkan, ada tiga poin transformasi yang mulai diusung. Setidaknya dalam satu dekade terakhir.

Pertama, kualitas pendidikan harus lebih maju, modern, namun tidak meninggalkan nilai-nilai islami. Kedua, permukiman warga yang tinggal sejak dahulu di dalam kawasan dibuat rapi dan pihak yayasan menguruskan agar mereka memiliki alas hukum kepemilikan.

“Ketiga adalah berdaya secara ekonomi. Yayasan sebagai lembaga berbadan hukum membuat beberapa langkah bisnis, yang keuntungannya kembali untuk kepentingan lembaga,” ungkap Muzayyin Arif, Selasa, 13 Juli 2021.

Menurutnya, salah satu langkah ekonomi yang dibuat yayasan adalah merencanakan kawasan perumahan komersial. Menggandeng pengembang profesional. Ayah Muzayyin, KH Arif Marzuki yang merupakan pembina utama yayasan sendiri yang menandatangani nota kesepahaman dengan pengembang, beberapa tahun lalu.

“Sejak mulai bergabung mengelola pesantren, kemudian diangkat oleh abah (KH Arif Marzuki) sebagai pimpinan pada 2015, saya selalu bertindak atas nama lembaga dan semua gebrakan kami dipastikan atas restu dan persetujuan beliau,” tambah Muzayyin.

Perencanaan pun dijalankan perlahan. Dimulai dengan membangun kawasan perumahan Relief, namun belum menggunakan lahan pesantren. Yayasan dan pengembang membeli lahan masyarakat di samping pesantren. Pertimbangannya, agar pihak-pihak di internal pesantren melihat bukti keseriusan. Maka berdirilah Relief, kawasan perumahan modern dengan desain minimalis.

Sayangnya pengembangan yang sudah hendak dilakukan harus ditunda sejak 2016. Muzayyin tak memungkiri ada resistensi. Terpaksa nota kesepahaman yang sudah dibangun dengan investor tak bisa direalisasikan semua poinnya.

Namun, itu tak membuat impian yayasan untuk berdikari secara ekonomi diletakkan begitu saja. Beberapa program ekonomi tetap dibuat. Pertimbangannya adalah visi menjadi pusat pendidikan islami yang modern dan berkualitas, membutuhkan daya dorong. Kemandirian ekonomi juga bisa melepaskan citra pesantren hanya bisa “hidup” dari sumbangan umat.

News Feed