by

DIA YANG TAK MUNGKIN

CERPEN :

Arniyaty Amin

Rena keluar dari sebuah gedung bersama sekumpulan orang yang berseragam sama dengan pakaiannya. Berjalan tergesa-gesa ke halte terdekat menunggu pete-pete, sebutan untuk mikrolet angkutan umum di kampungnya. Tangannya melambai menghentikan petepete berwarna biru.

Tetapi, sampai di atas pete-pete, dia tersadar kalau sudah kehabisan uang kontan lalu dengan rasa malu meminta pak sopir untuk berhenti lalu turun sambil meminta maaf.

Cuaca terik dengan aspal yang terasa panas membuatnya memandang ke kakinya yang ternyata tak memakai alas kaki. “Astagfirullah …sejak kapan aku tak memakai sepatu? He mana sepatuku?”. Teriaknya panik dan meringis menahan perih di kakinya.

Lalu, pandangannya tercuri oleh deru motor yang melintas di sampingnya. Dia gembira melihat pengendara motor itu lalu ingin meneleponnya tapi suara lembut membangunkannya, “Huuuft! Untung cuma mimpi,” gumamnya sambil tersenyum tipis pada Riri putrinya.

Setelah salat Ashar, dia mencoba mengingat mimpinya tadi. “Hai, kenapa aku memimpikannya? Senior di kampus yang jauh di atasnya dan kekasih terpendam kakaknya di masa lampau.

Dia lalu membuka bilik waprinya dan membaca chat-chat mereka berdua dengan senyum merona. Ada beberapa komen yang membuatnya bergidik tapi bahagia. Ah ini bukan tentang jatuh cinta karena dia tahu dulu ketika jatuh cinta dengan Atta, cinta pertamanya bukan rasa seperti ini yang hadir. Pun ketika hatinya menyerah pada Almarhum suaminya, juga tidak seperti ini. Meski kadang dia mengharapkan sapaan dari Zuki, seniornya itu. Tapi, Rena yakin ini bukan karena jatuh cinta.

“Assalamualaikum, dik, mungkin kakak ke Makassar akhir bulan ini,” chat WA Kak Rina masuk. “Waalaikumussalam kak, horeeeee …kutungguki, ingat pesananku nah!” Balasku.

“Siap dik, tidak ada lagi?” Balas Kak Rina. “Bawami semua yang bisa kita bawa Kakak, itu bisa menolongku dari KDIT,” kataku.

“Eits, apalagi itu KDIT, dik? Banyak sekali kosa katanya ini anak satu,”  ketik Kak Rina.

News Feed