by

Lawatan Strategis Kadhimi ke AS

FAJAR.KORAN.CO.ID, BAGHDAD -– Perdana Menteri Irak Mustafa Al-Kadhimi memulai lawatannya ke AS sejak tanggal 26 Juli 2021.

Direktur Kajian Timur Tengah, Amirullah Kandu, dalam laporannya, Rabu (28/7) menyebutkan, pertemuan antara Perdana Menteri Irak dengan Presiden Amerika Joe Biden, Perdana Menteri Irak membahas beberapa isu strategis seperti rencana penarikan pasukan AS, dan beberapa proyek kerjasama bilateral kedua negara di antaranya di bidang ekonomi terutama di sektor perminyakan, kebudayaan, kesehatan dan pendidikan.

Dalam keterangan persnya, Al-Kadhimi menyebut Joe Biden menyetujui penarikan pasukan tempur AS dari Irak yang berjumlah 2500 personil hingga akhir tahun 2021.

Kesepakatan ini dianggap sebagai sebuah babak baru hubungan Irak-AS dalam bidang militer. Penarikan pasukan tempur AS dari Irak tidak lantas mengakhiri kerjasama kedua negara di bidang keamanan, namun kerjasama tersebut masih akan berlanjut dalam format baru di dalam memerangi kelompok teroris ISIS. Al-Kadhimi menyebutkan hasil-hasil kesepakatan ini merupakan hasil dari perjalanan panjang diplomasi Irak.

Capaian ini disambut baik oleh Presiden Irak Barham Saleh, dan ia menyatakan bahwa hasil pertemuan strategis Irak-AS penting untuk mewujudkan stabilitas nasional dan wibawa Irak.

Keberhasilan ini tercapai atas kerja keras dari Al-Kadhimi dengan dukungan seluruh elemen masyarakat termasuk tokoh-tokoh agama.

Ketua Parlemen Irak Muhammad Al-Halbusi juga menyebut bahwa Irak telah berhasil secara diplomatis dan politis dengan tercapainya kesepakatan strategis ini, sementara pemimpin Faksi Al-Sadr, Muqtada Sadr mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah menolong tentara Irak dan hamba-Nya.

Kerja sama baru antara Irak-AS di dalam bidang militer akan direalisasikan dalam bentuk pelatihan terhadap tentara Irak oleh tentara AS, dan sebagai konsultan kemiliteran di dalam menghadapi serangan ISIS yang masih marak hingga saat ini.

Dalam keterangan persnya terkait kerjasama Irak-AS di bidang ekonomi, Al-Kadhimi menyebutkan bahwa Irak terbuka untuk investor AS, pemerintah Irak siap mengambil langkah-langkah berani di dalam melakukan perbaikan ekonomi.

Di dalam investasi, Al-Kahdimi masih mengandalkan sektor perminyakan dan energi. Bahkan Al-Kadhimi menginginkan rencana perusahaan minyak AS Exxon Mobile yang telah beroperasi di Irak sejak tahun 2019 untuk keluar dari Irak, dapat digantikan oleh perusahaan AS lainnya.

News Feed