by

Ruang Publik Perempuan dan Kualitas Layanan Kesehatan

FAJAR.KORAN.CO.ID, MAKASSAR -– Lembaga Studi Kebijakan Publik (LSKP)didukung Women’s Democracy Network dan International Republican Institute dan kerja sama dengan Kaukus Perempuan Sulawesi Selatan serta Kaukus Perempuan Politik Sulawesi Selatan melaksanakan diskusi Ruang Publik, Jumat (30/7).

Ruang Publik yang dipandu Alfiana Hafid sebagai host dengan menghadirkan narasumber; Dr. Fatmawati Afrianty Gobel, SKM., M.Epid. selaku Pengurus PAEI Prov. Sul-Sel dan Dr. Shanti Riskiyani, SKM,M.Kes (Dosen FKM) Unhas) mengangkat tema: “Perempuan dan Kualitas Layanan Kesehatan”.

Alfiana selaku host membuka bahasan dialog dengan perkenalan Ruang Publik, pemaparan profil narasumber dan dialog interaktif bersama narasumber.

“Petugas medis sebagai frontliner penanganan covid-19 saat ini didominasi oleh perempuan. Data tahun 2019 menunjukkan proporsi perempuan yang bekerja di jasa kesehatan mencapai hingga 2,69 persen. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan menjadi garda terdepan pada penanganan covid-19, sehingga sangat penting untuk pemerintah dapat  meningkatkan layanan kesehatan terhadap perempuan,” beber Alfiana.

Pandangan awal mengenai hal tersebut juga ditanggapi Dr. Shanti Riskiyani, selaku dosen departemen promosi kesehatan dan ilmu perilaku, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas).

Sebagai lini terdepan penanganan COVID-19 baik pada lingkup keluarga maupun masyarakat, perempuan tentunya memiliki risiko paparan yang lebih tinggi.  Selain itu, perempuan mengalami ancaman kesehatan pada kesehatan reproduksi dikarenakan perubahan prioritas pelayanan kesehatan di masa pandemi ini, jelas Shanti Riskiyani.

Shanti kemudian mengaitkan kondisi layanan kesehatan yang dialami perempuan saat ini dan penyebabnya. “Program kesehatan mengalami penurunan karena ada batasan sosial, apalagi saat ini pemerintah lebih memfokuskan pada penanganan Covid-19, sehingga pelayanan yang lainnya terbengkalai utamanya pada kesehatan perempuan,” bebernya.

Shanti mencontohkan, salah satunya dapat dilihat dari tingginya angka kehamilan perempuan. “Hal ini menjadi PR untuk kita semua, agar dapat menciptakan adaptasi di situasi seperti saat ini, dan tidak melupakan pelayanan lainnya, utamanya terhadap kualitas layanan kesehatan perempuan,” ungkapnya.

Shanti menambahkan, indikator penting dalam melihat kualitas kesehatan sebuah negara adalah angka kematian ibu hamil. Menurut bidang Binkesmas Dinkes Prov. Sulsel tahun 2019  pada tahun 2019, angka kematian ibu tercatat ibu nifas 53%, ibu hamil 22%, ibu bersalin 25%.

News Feed