by

Kesintasan Kaum Miskin Kota di Masa Pandemi

“Alhamdulillah, selama ada korona, laris jualanku, banyak yang beli jahe, sereh, temu lawak, kelapa muda, beras merah, gula merah, putu cangkiri, nasi kuning, madu, telur ayam, bebek, minyak gosok, dan kembang-kembang. Sebelum corona kurang-kurang pembeliku. Kenapa baru begitu, kenapa tunggu corona, padahal itu semua makanan sehat alami?”

            Petikan paragraf di atas adalah ilustrasi, wawancara imajiner konsumen dengan pedagang pasar tradisional. Di sebuah warung kopi penulis “makkita”, ketika para peminum berbagi rasa, bertukar pengalaman. Mirip dengan petikan kalimat di atas, seringkali obrolan mereka diawali dengan ungkapan “alhamdulillah”, puji tuhan, seperti sedang mensyukuri nikmat hidup selamat dari bala. Ada orang yang senang sekali mengoleksi tanaman hias di teras rumah, memanfaatkan lahan kosong dengan berkebun, berternak. Ada orang baru merasakan manfaat bertani sawah di kampung halaman, ikut menanam padi di lahan mertua, sambil mengojek di waktu luang, sesekali jadi kuli bangunan. Ada lagi yang merasa beruntung, namanya masih terdaftar sebagai kelompok miskin-prasejahtera, punya BPJS, dapat bantuan sosial, dana UMKM dipakai ga’de-ga’de di lorong. Satu hal yang bikin orang-orang itu kewalahan, mengurus anak sekolah, kencang main HP daripada belajar di medsos, kencang juga beli paket.

            Kebiasaan baru di masa pandemi berkorelasi dengan memori kolektif yang bersumber dari kearifan lampau. Wasiat dalam bahasa Bugis, “narekko pole sai’e atikeriwi nennia uraiwi alemu”, semakna dengan anjuran pentingnya bersikap “wawas diri”, menjaga omongan, perbuatan, serta kesehatan tubuh dari ancaman marabahaya. Dalam fikih pun terdapat kearifan (Maqashid al-Syari‘ah), “menghindari bahaya selalu lebih diutamakan daripada mencari maslahat.” Bahwa semua aktivitas dan ibadah dilaksanakan dalam rangka menjaga diri, keturunan, harta, akal dan agama (Iskandar, 2020:4-5).

            Menurut Dawkins (2006:189-201), perubahan kebudayaan beranalogi dengan evolusi genetik pada makhluk hidup. Seperti juga gen makhluk hidup (genemanship), manusia memiliki sifat-sifat (replikator) yang diwariskan antar/lintas generasi, sehingga berdaya sintas. Dalam kebudayaan dinamakan dengan istilah “meme” yang biasanya terdapat pada lagu, cerita, ide, pepatah, dan budidaya. Meme kebudayaan ini memperbanyak diri melalui proses transmisi, peniruan (mimesis) atau pun imitasi. Dawkins dalam Murtiningsih (2020:51-56) menyebut meme yang paling bertahan adalah relijiusitas (ketuhanan) karena menarik secara kebatinan, mampu menenangkan kegelisahan eksistensial manusia.

News Feed