oleh

Titik Refleksi dari Peristiwa “Saya Sapp*l”, New Power in Conventional View

Ungkapan “Saya Sapp*l” belakangan ini cukup segar dan menderu jagad dunia maya juga dunia nyata, seketika orang-orang mampu mengucapkan itu diberbagai level komunikasi, seperti candaan, semi-formal bahkan di tempat formal sekalipun. Hal ini tentu tidak terjadi begitu saja, selalu ada api di setiap asap, serta di setiap api yang telah menjadi bara, bisa saja kembali menjadi api dan melahap apa saja.

Perseteruan yang cukup dramatik kembali tertuju pada kejadian di salah satu Warung Kopi di daerah Gowa, diberitakan jika perseteruan ini terjadi antara pemilik warkop dengan salah satu oknum anggota Satuan Polisi Pamong Praja (SATPOL-PP) yang berujung di kantor penegak hukum. Terlepas dari itu semua, dalam tulisan ini saya ingin mengajak pembaca untuk melihat lebih dekat bagaimana framing ihwal kekuasaan bekerja dan memunculkan sarkasme “Saya Sapp*l”.

Mulanya, mari kita telaah dengan seksama bagaimana media (medsos) dipakai untuk melihat juga memahami kekuasaan yang bekerja melalui fokus lensa (Nicholas, 1916). Sebab melalui perseteruan ini kita justru memahami jika kekuasaan tidak hanya dilihat dari perang dan moncong senjata semata, namun kekuasaan akan menjadi semakin menarik dan agung melalui bidikan kamera. Kelebihan dari lensa dan kamera ini, memberikan efek kuasa yang ternyata memiliki daya paksa, kuasa dan juga daya pukau.

Selanjutnya, kuasa yang didapat dari daya paksa atau pukau ini ternyata lebih bisa menjelaskan bagaimana pertikaian ini ditarik lebih jauh dan dilihat melalui sudut tertentu. Kekuasaan yang dituai dari bidikan kamera akan berujung pada penciptaan seorang idola, praktik penciptaan seorang idola ini dilakoni oleh tokoh yang belum banyak dikenal publik, sehingga tak jarang jika kuasa media melalui daya pukau cenderung melahirkan tokoh yang karbitan, belum matang dan cukup labil.  

Berbeda dengan kuasa yang terlahir dari rahim penguasa, biasanya kuasa jenis ini terepresentasi melalui gelar, simbol-simbol tertentu sampai ke pakaian seragam. Kuasa ini tentu terbilang konvensional dibanding kuasa bidikan kamera tadi, namun luarannya tentu berbeda. Karena kuasa konvensional mampu hadir di lembaga-lembaga pemerintah yang memiliki legitimasi hukum, terawat dan telah berjalan lama, sehingga untuk sebanding saja susah, apalagi berniat utuk menyaingi.

News Feed