by

Kapasitas Literasi dan Relevansi Budaya

Literasi dan kontestasi budaya (bagian-2-selesai)

Secara konseptual, dari KBBI daring terdapat tiga defenisi literasi: (1) n kemampuan menulis dan membaca; (2) n pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu: — computer; (3) n kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.

Martin Suryajaya, penulis filsafat dan kritikus sastra, pada kanal pribadinya mendefenisikan literasi pada dua hal. Pertama, terkait dengan baca tulis, dalam arti kata bebas dari buta huruf. Kedua, literasi dimaknai sebagai praktik mengkonsumsi dan memproduksi pengetahuan.

Alwy Rachman, kolumnis literasi, akademisi ilmu budaya, dan budayawan, mendefenisikan literasi tak sekedar mengenai pemberantasan buta huruf semata sebagaimana lazim menjadi program pemerintah di masa orde baru hingga awal reformasi di Indonesia. “Literasi adalah aksi manusia dalam membaca kebudayaan sebagaimana manusia itu dibaca oleh kebudayaan”, seperti dikutip oleh Identitas Unhas dalam sebuah publikasinya.

Dengan begitu, dari defenisi Alwy Rachman di atas, literasi terkait dengan kemampuan dan kapasitas seseorang dalam “membaca” keadaan lingkungan sekitarnya, dan dunia, serta kesiapan dan kesigapan seseorang untuk dibaca, dikritik, dan dikoreksi oleh keadaan lingkungan dan dunia sekitarnya.

Soal kemampuan dibaca ini, bertalian dengan konsep terbaru dalam kajian budaya abad XXI, yakni relevansi. Seberapa relevankah seseorang dengan gerak zaman dan perubahan sosial budaya dan teknologi hari ini? Artinya, relevansi memvalidasi kapasitas seseorang di hadapan lingkungan dan dunia yang dijalaninya. Relevansi inipun pada akhirnya terkait dengan kapasitas literasi seseorang maupun sebuah kelompok masyarakat.

Terkait relevansi budaya, menarik menghubungkannya dengan satu tema lazim dalam cultural studies (kajian budaya), yakni kontestasi budaya. Kontestasi budaya berpretensi menjadikan satu konstruksi dan artikulasi budaya dari satu kelompok merebut dominasi dan hegemoni akan apa dan siapa yang paling relevan dalam praktik budaya masyarakat dewasa ini. Budaya yang manakah yang dianggap dominan sehingga berhak mengatur apa dan siapa yang valid dan relevan?

Pencitraan (self – actualization) dan masyarakat tontonan (the society of the spectacle)

News Feed