by

Anosmia Kemerdekaan

OLEH: Muh. Shadri Kahar Muang/Dosen IAIN Palolo

Anosmia merupakan hilangnya fungsi indra penciuman dan perasa secara total. Orang yang mengalami anosmia tidak bisa mencium aroma, dan mengecap rasa apapun. Anosmia ini bukan hanya terjadi pada kondisi fisik kita yang disebabkan oleh virus Covid-19 dan penyakit lainnya tetapi gejala ini nampaknya diderita oleh mentalitas kita dalam memaknai hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Hari kemerdekaan adalah warisan perjuangan para pahlawan, kehadiran para ulama dan trengginasnya bapak bangsa yang dititipkan kepada generasi kita. Pembangunan dan kemajuan yang kita rasakan adalah hasil daripada penat lelah mereka. Anosmia kita dimulai dari ketidakmampuan mental dan fikiran kita untuk menciumi aroma  pemikiran radikalisme dan antinasionalisme yang dibawa masuk ke negara kita. Selaput-selaput pemikiran nasionalisme dan kebudayaan kita telah tersumbat oleh pelbagai macam arus pemikiran yang berusaha untuk mencabik-cabik ruang kemerdekaan yang kita miliki dengan menawarkan kemerdekaan semu dengan iming-iming yang melangit. Kita dengan leluasa bersuara apa saja tanpa batasan.

Dengan dalih demokrasi, apa yang ingin disuarakkan diperdebatkan secara terbuka tanpa memikirkan perasaan suku, agama, ras dan golongan lain. Kita lupa ketika orang lain membicarakkan kita, dengan lantang kita laporkan dia atas nama UU ITE. Tetapi apabila kita yang memberikan lebel atau stigma kepada golongan lainnya, kita anggap itu kebebasan berekspresi dan berbicara. Kita juga mengalami ketidak mampuan merasai  polarisasi golongan semakin melebar untuk kepentingan kekuasaan partai dan golongan. Bagaimana kita bisa membaui aroma persatuan dalam hari kemerdekaan jika kita sendiri mengajarkan kepada anak kita berpecah belah sejak dini ?

Anosmia dalam hari kemerdekaan juga bisa terlihat dari ketidakmampuan nalar dan batin kita dalam mengecap dan merasai ketidakberdayaan pada sendi-sendi kebernegaraan. Dimulai dari segi ekonomi dan industri, kita dininabobokkan dengan menggerakkan roda perekonomian negara asing ketimbang menggerakkan roda perekonomian kita sendiri. Kita begitu nyaman melakukan konsumsi secara berlebihan atas produk dan jasa asing ketimbang menjadi tuan rumah dalam mengembangkan produk dan jasa kita sendiri. Malangnya lagi, adapun produk dan jasa yang kita buat kualitas dan kuantitasnya tak bisa menandingi produk asing. Kita kehilangan indra perasa kita terhadap kedaulatan energi dan mineral yang terkandung dalam perut ibu pertiwi. kurangnya usaha hilirisasi energi dan mineral, dan ketidakmampuan kita melakukan privatisasi sumber daya alam.

News Feed