by

HMI Ada karena (Masih) Berpikir

OLEH: Fadli Andi Natsif

Ketua Umum HMI Komisariat FH-UH Periode 1988 – 1989/Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar

Dugaan seperti yang saya ungkapkan di status FaceBook (FB), sekaitan tulisan Prof. M. Qasim Mathar (MQM) tentang “HMI Sudah Tiada” di kolom Jendela Langit (Fajar, 14/08/2021), betul terbukti. Banyak yang like dan komentar bahkan membagikan kembali status saya itu diberandanya. Ada bernada setuju, tentu juga ada nada protes. Tersinggung dan Kebakaran Jenggot, demikian diksi saya mengawali tanggapan tulisan tokoh dan sesepuh KAHMI Prof. Qasim Mathar.

            Salah satu tanggapan yang dapat dikatakan “polemik” diungkapkan melalui tulisan juga oleh Prof. Mustari Mustafa, selain dosen UIN Alauddin  juga pengurus KAHMI wilayah Sul-Sel dan kota Makassar, dimuat harian Fajar berjudul HMI Banyak Tafsir (Kamis, 19/08/2021).Intinya tulisan Prof. Mustari Mustafa, ingin menegaskan bahwa untuk menilai keberadaan HMI memang bisa saja menimbulkan banyak tafsir. Paling tidak ada dua poin pesan bisa berdampak positif tapi juga negatif dari tulisan Prof. Qasim. Positifnya, pemikiran ini dapat dijadikan ujian berdialektika bagi keluarga besar HMI termasuk KAHMI agar dapat memperkuat karakter cerdas dan progresif seorang kader HMI. Tetapi di sisi lain dampak negatif pemikiran ini karena dapat berpotensi menjadikan anak HMI “prustasi”. Padahal sejarah kebangsaan dan keislaman yang diemban oleh HMI selama ini sudah banyak memberi pengaruh yang melintasi kawasan di luar Indonesia.

            Sejak awal setelah membaca tulisan Prof. Qasim, saya sudah menduga akan menuai tanggapan seperti yang saya narasikan di beranda FB beberapa hari lalu. Mungkin Prof. Qasim juga menyadari hal itu. Sehingga saya meresponnya bahwa ini hanya merupakan pancingan atau pemantik agar kader-kader HMI terus “bergerak” untuk mewujudkan eksistensinya.

            Dua variabel yang diungkapkan oleh Prof. Qasim untuk men-judge (menilai) HMI Sudah Tiada memang debatable (belum pasti). Tidak bisa dipungkiri penilaian Prof. Qasim terhadap kader-kader HMI dewasa ini sebuah realita. Terjadinya perbedaan pendapat dalam setiap hajatan pergantian kepemimpinan di tubuh HMI selalu dan selalu muncul yang membawa konsekuensi polarisasi kepemimpinan. Akhir dari polarisasi itu dapat dilihat dari terjadinya dualisme kepemimpinan. Begitu pun variabel lain yang sempat dipantau oleh Prof. Qasim terhadap perilaku-perilaku kader HMI yang hanya senang “nongkrong di warung kopi berselfie ria dengan berbagai sajian makanan yang akan disantapnya.

News Feed