oleh

Menggandeng Komunitas Cegah Perkawinan Anak

Kita bisa melihat hasil monitor dan evaluasi dari Gerakan BERANI yang didanai oleh Pemerintah Kanada untuk mengajak komunitas terlibat dalam pencegahan perkawinan anak, pada 6 desa piloting di Kabupaten Bone. Hasil dari Gerakan BERANI menunjukkan bahwa ke-6 desa piloting mengalami peningkatan pengetahuan sebanyak 30% terkait perkawinan anak dan Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM). Peningkatan ini terjadi karena adanya kegiatan bersama dengan komunitas menggunakan materi inovatif dan interaktif seperti alat bantu komunikasi berbentuk papan permainan yang dapat digunakan oleh orang tua untuk mengajarkan dampak perkawinan anak. Alat bantu seperti panduan dakwah juga dapat digunakan oleh Ustazah untuk menyebarkan pesan pentingnya pencegahan perkawinan anak. Alat bantu yang telah dikembangkan oleh Gerakan BERANI dilengkapi dengan topik manajemen kebersihan menstruasi, pencegahan kehamilan usia dini, pencegahan perkawinan anak dan pentingya pendidikan.

Penelitian tahun 2021 yang dilakukan Tulodo menemukan sebuah kasus dimana ada seorang ibu di Desa Lilina Ajangale yang membatalkan niat untuk menikahkan anaknya karena ibu tersebut pernah mengikuti kegiatan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) yang membahas terkait Pencegahan perkawinan anak. BKMT adalah salah satu komunitas yang mendapatkan informasi dampak perkawinan anak di Gerakan BERANI. Seperti yang dikatakan oleh seorang anggota BKMT: “…Mungkin juga orang tuanya sudah paham tentang hal itu [pencegahan perkawinan anak], karena dulu ada pertemuan untuk BKMT toh, [program] sosial, ekonomi, saya terjunkan semua orang tua… Mungkin dia paham sisi negatif-nya menikah dibawah usia, mungkin itu salah-satu alasannya mengapa tidak terjadi” (pernyataan disempurnakan oleh penulis).

Selain BKMT, organisasi kemasyarakatan lainnya seperti Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA), Kelompok Tani, Kelompok Kerja (POKJA) Desa Sehat, Kader PKK dan posyandu juga terlibat aktif dalam upaya pencegahan perkawinan anak di Kabupaten Bone.

Agar kesadaran untuk pencegahan perkawinan anak muncul seperti yang ditemui di Desa Lilina Ajangale, pemerintah daerah Kabupaten Bone harus turut melibatkan komunitas yang ada di masyarakat untuk melakukan pencegahan perkawinan anak. Keterlibatan komunitas dilakukan dengan memperkuat sosialisasi dan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk terlibat aktif dalam berinteraksi dan berinovasi. Dengan demikian upaya pencegahan perkawinan anak dapat berdampak lebih besar dan berkelanjutan. (*)

News Feed