by

Personalistik Kader HMI Harus Keluar dari Dirinya

OLEH : Ahlan Mukhtari Soamole/ Alumni Peserta LK 3 HMI BADKO Sulselbar 2021

Semenjak 14 Agustus ketika tulisan Prof. Qasim Mathar tentang HMI bersileweran sampai ke pembaca terutama kader HMI se-Indonesi. Tulisan itu dimaknai sebagai kritik maupun autokritik terhadap HMI ‘memukul’ secara keras kepercayaan-kepercayaan terhadap HMI selama ini dengan kehadiran tulisan itu beberapa tafsiran bermunculan mengenai kelunturan organisasi HMI.

Namun, sekali lagi perlu dipertanyakan pantaskah HMI dibubarkan. Sebelum ungkapan Prof Qasim Mathar mencuat, pada masa Cak Nur, perumus NDP (Nilai Dasar Perjuangan HMI) juga pernah mengungkapkan hal sama bahwa HMI harus dibubarkan, dalil-dalil itu kemudian diperkuat oleh hasil perenungan Agus Salim Sitompul mengenai 44 indikator HMI, kini semakin menggelitik oleh argumentasi Prof Qasim Mathar bahwa HMI sudah tidak ada. Mengapa sampai saat ini HMI masih ada? Menurut hemat penulis ungkapan-ungkapan para Profesor bak ‘bengkel’ selalu memberi service, pelumas, pembaruan bagi organisasi agar tak mengalami depresiasi penurunan nilai eksistensi HMI dari masa ke masa.

Kehadiran HMI merupakan entitas perjuangan luhur tak dapat dimaknai dari ruang kopi satu ke ruang kopi lain. Namun, dari ruang revolusi satu ke revolusi lainnya. Komitmen keumatan dan kebangsaan tak dapat ternilai hanya sekedar memaknainya sebagai pemulus negosiasi praktis politik, underbow pemerintah (baca; mitra pemerintah) semata. Komitmen luhur mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat Indonesia dan menyebarkan ajaran Islam.

Komitmen luhur itu kemudian terpatri terpatri dalam diri para kader HMI dalam bentuk kesederhanaan hidup namun tak mengalami kejmudan dalam pola pikir, tindak dan sikap berarti tak menghamba pada materi. Kesederhanaan hidup namun maju dalam berpikir, bertindak dan bersikap merupakan ciri indenpendensi etis memaknai komitmen-komitmen keumatan dan kebangsaan sebagaimana Lafran Pane dan 14 orang pendiri HMI tercermin dalam kesederhanaan hidup membekas sosok sebagai intelektual, pejuang paripurna HMI.

Lantas pada titik mana dapat menjustifikasi HMI tak ada. Bukankah kemunduran HMI tak ada. Bukankah kemunduran HMI saat ini lebih berorientasi pada personalistik kader HMI belum ‘keluar dari dirinya’ artinya kader belum keluar dari dirinya adalah mereka terjebak dalam comfort zone kejumudan materi hanya memanfaatkan HMI sebagai tools memperoleh kemapanan, sekelompok penekan pemerintah atau partai politik keterlibatannya secara praktis, sejatinya bertentangan dengan komitmen HMI itu sendiri.

News Feed