oleh

Hilangnya Para Penenun Perempuan

-Fajar-1.920 views

Hadra adalah satu dari 16 penenun mandiri yang menggunakan alat tenun tradisional bernama walida. Penenun lainnya sudah beralih menggunakan alat tenun yang lebih rumit dan besar, dengan modifikasi terbaru yang membuat pekerjaan lebih ringan. Alat tenun ini dinamai alat tenun bukan mesin atau ATBM.

Sebagai seorang penenun yang paling tersohor di kabupaten yang menjadi pusat penenun sutra di Sulawesi Selatan, Hadra dapat menenun motif sarung sutra paling tersohor, motif yang sama dengan nama kampungnya: motif tosora. Hanya pemesan berkantong tebal yang sanggup membayarnya menyelesaikan sarung dengan motif tersebut. Karena itu, ketika tidak sedang mengerjakan pesanan khusus, ia menenun dengan motif-motif lain.

“Saya tidak bisa menghitung berapa banyak motif yang sudah pernah saya tenun. Saya bisa buat sendiri motif baru kalau dibutuhkan. Orang-orang selalu membuat motif baru,” ujar Hadra. Untuk seluruh keterampilan dan pengetahuan mendalam tentang tenun sutra, yang mendatangkan ketenaran bagi kampung, kabupaten, dan bahkan provinsi, Hadra dan penenun walida lain menerima kompensasi yang kurang sepadan. Harga untuk selembar sarung tenun sutra yang Hadra dan para penenun walida lainnya hasilkan berkisar 1,2 juta rupiah. Ini mungkin terlihat banyak. Namun jika angka itu memperhitungkan biaya produksi yang mencapai 365 ribu rupiah dan lama waktu menenun yang biasanya memakan waktu sebulan maka pendapatan Hadra per hari berkisar 28 ribu rupiah saja. Serendah itulah pasar menilai kreativitas sang maestro tenun tradisional dalam menciptakan motif atau menyelesaikan tenunan dengan tingkat kerumitan yang tinggi.

Hadra bernasib baik. Dengan pendapatan seperti itu, Hadra tidak harus terus menenun, dan sesekali bisa bereksperimen dengan motif, karena ia selalu bisa mengandalkan pendapatan utama dari suaminya yang petani. Apalagi tanggungan hidup Hadra kini jauh lebih ringan karena anaknya sudah menikah.

Tapi nasib baik Hadra tidak sama dengan kebanyakan perempuan yang bekerja sebagai penenun kontrak. Perempuan-perempuan seperti Saribulan.

Bertahan dalam Nestapa

Kain batik menutupi nyaris seluruh rambut Saribulan. Di antara rambutnya tampak helai-helai uban. Usianya mungkin sekitar lima puluh tahun.

News Feed