oleh

Hilangnya Para Penenun Perempuan

-Fajar-1.918 views

Berdiri di pekarangan rumah panggung yang ia tinggali di Kampung Sutra, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo, wajahnya dikuasai keraguan, atau kecemasan. Petang segera datang, Saribulan mungkin perlu mengerjakan berderet tugas rumah tangga yang menjadi tanggung jawabnya sebagai orang yang tinggal bersama keluarga adiknya. Ia tidak menikah.

Sejak menyelesaikan sekolah dasar Saribulan sudah bergelut dalam usaha penenunan sutra. Hampir setiap hari ia duduk di kolong rumah untuk menenun kain atau sarung, bergantung pesanan yang datang dari pengusaha yang menjadikannya sebagai penenun langganan atau penenun kontrak.

Sebagaimana penenun lain, untuk menenun selembar sarung, mereka butuh waktu tiga hari, bila mereka bekerja secara intensif mulai pukul delapan pagi sampai lima petang dan hanya jeda istirahat makan siang dan sholat.

Rentang upah seperti itu seolah bekerja untuk memastikan semua penenun kontrak seperti Saribulan hanya akan bekerja sebagai penenun kontrak sepanjang hidup mereka. Itu bahkan berlaku bagi penenun seperti Saribulan, yang memiliki alat tenun sendiri (sebagian besar penenun kontrak tidak punya alat tenun sendiri), dan tak punya tanggungan.

“Saya tidak berkeluarga, jadi hasil tenun sekarang sudah cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari saya, misalnya untuk beli beras.”

Pengalaman Saribulan sebagai penenun kontrak juga dialami oleh penenun lain yang menggunakan ATBM. Saat ini ada 135 penenun yang menggunakan ATBM di Kabupaten Wajo atau sekitar 90 persen dari seluruh penenun di wilayah tersebut.

Saribulan tidak selalu menjadi penenun kontrak. Ia pernah sukses mengembangkan usaha tenunnya sendiri hingga dijuluki pengusaha tenun skala kecil. Dahulu Saribulan bisa mengumpulkan modal dari hasil menenun. Saat itu kedua orang tuanya masih hidup dan membantunya memenuhi kebutuhan hidup. Seluruh pendapatannya dari menenun dapat ia tabung untuk beli alat tenun bukan mesin.

Sepuluh tahun lalu, Saribulan kehabisan modal. Ia bangkrut dan kembali menjadi penenun kontrak yang bergantung pada pesanan dari pengusaha tenun.  Ini telah menjadi pengalaman yang lazim di kampung Sutra yang juga dijuluki Kampung Sabbe (sabbe dalam Bahasa Bugis berarti sutra).

News Feed