oleh

Hilangnya Para Penenun Perempuan

-Fajar-1.917 views

“Kami penenun tentu mau menjual sarung atau kain dengan harga tinggi, tapi pembeli tidak mau,” katanya. Bagi pengusaha kecil seperti Saribulan, harga jual barang ditentukan oleh para pembeli, para pedagang kain yang banyak mendatangi kampungnya.

“Harga sarung atau kain terkadang rendah, sedangkan harga beli benang mahal, dan saya tidak bisa menahan barang sampai harga kembali tinggi karena orang yang saya pekerjakan butuh uang segera. Saya terpaksa jual sarung dengan murah untuk menggaji pekerja.”

Para pembeli tahu kalau kain atau sarung tidak ia jual segera, Saribulan akan kehabisan modal untuk melanjutkan pekerjaan. Mereka memanfaatkan situasi ini dengan menawar murah.

“Beda dengan pengusaha tenun yang bermodal besar. Mereka bisa menumpuk sarung, nanti kalau harga sudah naik baru dijual. Pengusaha dengan modal besar masih bisa menggaji penenun sebelum menjual sarung,” katanya.

Demikian lemah posisi tawar para penenun ini di hadapan pedagang. Mereka sangat khawatir tidak bisa mendapatkan pembeli sesegera mungkin. Mereka bahkan bisa menerima cara transaksi yang berat sebelah, yaitu dibayar dengan cara cicilan.

“Pembeli kain atau sarung terkadang membayar lunas, terkadang juga dicicil. Kain seharga 200 ribu biasanya dicicil tiga sampai empat kali.” Tidak sedikit pengusaha tenun skala kecil yang akhirnya gulung tikar akibat tekanan harga dan batalnya pesanan. 

Kenaikan harga benang menjadi tantangan yang lain bagi pengusaha tenun skala kecil. Harga benang yang naik memaksa mereka untuk mengurangi keuntungan, Sementara mustahil menaikkan harga tenunan produksi akibat posisi tawar mereka yang sangat lemah di hadapan para pedagang.

Sampai sekarang Saribulan tak sanggup mengembalikan taraf penghidupannya karena alasan yang sangat jelas, upah tenunan yang terlampau rendah.Setelah tiga dekade bekerja, menenun lembar demi lembar kain mewah yang orang kenakan dalam banyak pesta meriah, ia masih hidup dalam nestapa.

Sementara itu, parapengusaha tenun skala besar, seperti tetangga kampungnya sendiri, kita sebut saja Haji Ida, bernasib jauh lebih baik.

News Feed