oleh

Hilangnya Para Penenun Perempuan

-Fajar-1.928 views

Mereka Belum akan Bangkrut

Haji Ida sudah 32 tahun bekerja sebagai pengusaha tenun sutra. Ia mulai terlibat dalam usaha tenun tak lama setelah menikah, awalnya sebagai penenun lalu menjadi pengusaha. Haji Ida memesan tenunan kain dan sarung tenunan dari penenun dan menjualnya kepada pedagang. Para penenun langganan sehari-hari menyebutnya “bos”.

Pada tahun-tahun awalnya sebagai pengusaha tenun sutra, Haji Ida bekerja dengan 10 penenun kontrak. Pada masa jayanya pada akhir 1990-an sampai pertengahan 2000-an, ia bisa mengantongi keuntungan yang melampaui pendapatan suaminya yang berdagang di pasar. Ketika itu Haji Ida mempekerjakan 70 penenun kontrak.

Sebagaimana pengusaha tenun skala besar, Haji Ida mampu membeli alat tenun bukan mesin dan meminjamkannya kepada setiap penenun kontraknya. Alat tenun itu diantarkan ke rumah penenun kontrak dan boleh simpan di sana sampai mereka putus hubungan kerja, biasanya karena penenun berhenti menenun atau berganti bos. Jumlah penenun kontrak seorang pengusaha dapat diketahui dari jumlah alat tenun milik sang bos yang masih beroperasi.

“Dulu kami tenun sarung Samarinda. Sangat sibuk waktu itu,” kenang Haji Ida.

Dahulu banyak pedagang mendatangi rumahnya sejak pukul 4 pagi untuk membeli sarung. Sesekali ada juga pesanan pedagang yang diantarkan sendiri oleh Haji Ida. Mereka yang datang ke rumahnya rata-rata beli sepuluh atau dua puluh lembar. Pada masa itu, karena banyaknya pedagang yang datang ke rumahnya, ia tak jarang berbohong bahwa barang jualannya sudah habis, agar setiap pedagang langganannya bisa pulang membawa barang dagangan.

“Kadang-kadang kalau pedagang langganan sangat butuh, saya beri lima sarung saja untuk satu orang. Dibagi rata. Masalahnya, kadang satu orang pedagang bisa membeli seratus lembar sarung.”

Ada masa-masa jeda ketika pedagang kurang banyak yang datang ke rumahnya, ditandai dengan menumpuknya sarung yang belum terjual di lantai rumahnya yang lapang. Pada saat-saat seperti itu suaminya akan membawa dan menjual barang-barangnya di Makassar.

Bagi Haji Ida masa-masa itu sudah lewat. Semakin sedikit pesanan datang kepadanya akhir-akhir ini. Bila dahulu ia menyambut pembeli siang dan malam setiap hari, kini mereka datang sekali dalam dua pekan, atau bahkan sekali sebulan.

News Feed