oleh

Hilangnya Para Penenun Perempuan

-Fajar-1.925 views

Sejak Agustus 2020 sampai Januari 2021, TPK berkutat dengan kajian ini. Mereka mengunjungi kabupaten Enrekang, Wajo, dan Soppeng untuk mewawancarai puluhan petani, belasan penenun, serta sejumlah pengusaha, pedagang, dan perwakilan organisasi pemerintah yang terkait.

Dari analisis Tim Pelaksana Kajian inilah kita jadi tahu lebarnya ketimpangan di antara pelaku di sektor manufaktur tenun sutra Sulawesi Selatan menganga lebar. Para penenun kontrak berbasis ATBM seperti Saribulan hanya menerima 10 ribu rupiah per hari kerja, dan untuk mengantongi pendapatan yang kecil itu mereka mesti bekerja setidaknya tiga hari. Para penenun walida seperti Hadra tak jauh berbeda, mereka mesti menenun selama rata-rata dua bulan sebelum bisa menikmati pemasukan sekitar 28 ribu rupiah per hari.

Para pengusaha tenun skala besar sangat bisa menjual lebih dari satu sarung setiap hari dan meraup laba 470 ribu rupiah untuk setiap lembar sarung sutra yang ditenun dengan ATBM, dan 300 ribu rupiah untuk yang ditenun dengan walida. Artinya, bila para pengusaha tenun skala besar hanya bisa menjual selembar sarung dalam sehari, mereka tetap mengantongi 30 sampai 47 kali lipat dibandingkan para penenun. Dari setiap sarung yang terjual, keuntungan terendah para pengusaha tenun skala besar setara dengan upah kerja sebulan para penenun kontrak–jika mereka bekerja tanpa hari istirahat.

Ketimpangan ini akan semakin jelas bila kita melihat lebih jauh hitungan-hitungan TPK terhadap penambahan nilai di sepanjang rantai produksi sutra Sulawesi Selatan. Para penenun seperti Hadra dan Saribulan sejatinya berkontribusi paling besar dalam penambahan nilai sutra, dan mereka menerima pendapatan paling kecil.

Akibat marginalisasi ekonomi itu, tidak sulit membayangkan para penenun meninggalkan pekerjaan mereka begitu terbuka kesempatan lain atau bila pekerjaan mereka berbenturan dengan kebutuhan keluarga. Ketimpangan ini menjadi ancaman besar bagi industri tenun sutra Sulawesi Selatan.

Tantangan yang dialami pengusaha tenun skala besar seperti Haji Ida adalah jika penenun kontrak tidak bekerja konsisten mengejar target pesanan dan bila ada penenun yang memutuskan berhenti. Dua soal ini biasanya bermuara pada alasan keluarga: penenun kontrak sibuk dengan beraneka urusan rumah tangga sehingga mengabaikan tenunan atau bahkan meninggalkan profesi itu.

News Feed