oleh

Hilangnya Para Penenun Perempuan

-Fajar-1.923 views

Sementara mereka yang masih bertahan, terutama penenun kontrak seperti Saribulan, kebanyakan tak punya pilihan penghidupan yang lebih layak. Perempuan-perempuan yang bertahan, karena menjadi pencari nafkah utama, sebagai kepala keluarga, maupun yang tidak menikah, biasanya harus terus menekuni penghidupan sebagai penenun.

Para perempuan penenun ini dipaksa hidup dalam kerentanan. Guncangan sekecil apa pun sanggup melempar mereka keluar dari rantai produksi sutra.

Hilangnya Para Pelaku Kecil

Lantas mengapa ketimpangan dan marginalisasi ini bisa bertahan cukup lama dalam gelap? Mengapa pengalaman para penenun perempuan ini hilang dari perhatian publik?

Boleh jadi, statistik resmi yang memuat data para penenun memainkan peran dalam hal ini.Dalam data statistik yang diterbitkan pemerintah, para penenun dipilah berdasarkan alat tenun (walida dan ATBM), tempat tinggal (desa dan kecamatan), atau skala usaha (pelaku usaha besar dan kecil). Pemilahan yang teknokratik dan administratif semacam ini dapat menyamarkan situasi sulit yang dihadapi pelaku industri tenun sutra skala kecil.

Dengan menggunakan metodologi berbeda, TPK menemukan tiga kategori penenun menurut posisi sosial mereka di hadapan aktor lain seperti pengusaha skala besar: sebagai penenun mandiri, langganan, pekerja. Pemilahan ini bertumpu pada kepemilikan alat tenun, modal, dan pembagian pendapatan dari produksi tenunan.

Dengan cara inilah TPK menunjukkan bahwa para penenun kontrak dan penenun pekerja kebanyakan tidak memiliki alat tenun, menerima upah yang rendah, dan karenanya sulit menghimpun modal guna meningkatkan taraf hidup mereka. Sementara penenun yang memakai walida, walaupun menggunakan alat milik sendiri, tetap menerima upah yang terlalu kecil sehingga sulit bagi mereka untuk membangun usaha mandiri yang berpenghasilan layak.

Statistik pemerintah yang memilah berdasarkan alat juga menyembunyikan gambaran mengenai tingkat pendapatan para penenun menurut posisi sosial mereka. Pemilahan unit ‘usaha rumah tangga’ dan ‘usaha pertenunan’ dalam statistik resmi dapat dengan mudah menyamarkan ketimpangan antara penenun yang memiliki banyak alat, sedikit alat, dan tidak punya alat, demikian pula ketimpangan antara mereka yang berpendapatan besar dan kecil.

News Feed