oleh

Hilangnya Para Penenun Perempuan

-Fajar-1.922 views

Kealpaan data yang secara akurat menyajikan situasi para pelaku kecil – penenun dan pengusaha tenun skala kecil, sangat mungkin menyulitkan perancangan kebijakan dan program yang tepat guna mendukung para pelaku yang betul-betul butuh.

Buktinya cukup jelas: seluruh penenun yang diwawancarai TPK mengaku belum pernah menerima pelatihan atau bantuan lain dalam bentuk apa pun. Bahkan, tampak indikasi bahwa pelatihan-pelatihan tersebut hanya diakses oleh penenun-penenun tertentu.

Melihat kelemahan data di atas, mengingat bahwa seluruh penenun adalah perempuan, sungguh sulit menghindari kesan hadirnya bias gender yang cukup parah dalam penetapan dan pelaksanaan kebijakan dalam rantai produksi tenunan sutra Sulawesi Selatan.

Bias itu menyamarkan pengalaman para pelaku kecil industri tenun sutra seperti Hadra dan Saribulan, yang hanya bisa bertahan dalam kesusahan sampai mereka terlempar keluar dari rantai produksi.

Sementara tabiat pasar terus menggencet mereka di antara harga bahan baku dan harga jual, serta memerangkap mereka dalam hubungan kontrak yang merugikan; data statistik  menyembunyikan situasi buruk mereka, dan mencegah negara dan publik untuk tahu dan bertindak.

Bias gender dalam proses-proses kebijakan dan mekanisme pasar memang cenderung menghasilkan ketimpangan, dan ketimpangan dalam industri tenun sutra Sulawesi Selatan berarti hengkangnya para perempuan dari kerja menenun. Ini sebuah ancaman mematikan bagi industri sutra di Sulawesi Selatan.

Tanpa campur tangan serius pemerintah, mekanisme pasar yang kini bekerja akan terus menghasilkan ketimpangan. Tanpa mengubah proses kebijakan yang bias gender, para perempuan pelaku kecil akan sulit terlihat dan punya peluang untuk menyuarakan kebutuhan nyata mereka. Tanpa semua intervensi itu, ketimpangan yang bertahan lama akan menghabiskan para perempuan penenun yang menua. Sementara perempuan dari generasi baru akan mencari penghidupan yang lebih layak bahkan sebelum menyentuh alat tenun.

Setelah impor ulat dan benang sutra mengalir ke Sulawesi Selatan, barangkali kita akan menyaksikan impor kain dan sarung sutra yang dijual sebagai karya perempuan penenun Wajo. (*)

News Feed