by

Kasihan! Balita Gizi Buruk Ini Pingsan

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR—Seorang balita usia satu tahun lima bulan ditemukan pingsan. Bayi malang itu tidak sadarkan diri selama sejam di gubuk kecil milik orangtuanya di Jalan Kubis, Makassar.

Ia tidak sadarkan diri sejak pukul 11. 30 Wita hingga pukul 12.30 Wita, Senin, 6 September 2021. Bayi itu baru siuman setelah mendapatkan pertolongan pertama dari keluarga dan tetangganya.

Balita itu merupakan anak kedua dari pasangan Sangkala dan Suhana. Anak pertama mereka seorang perempuan berusia sembilan tahun. RS, inisial bayi malang itu divonis oleh dokter mengidap penyakit fleksi akibat komplikasi dari gizi buruk sejak satu bulan dilahirkan.

“Saya melahirkan sesar. Tidak bisa menyusui anakku. Dilarang-ka dokter untuk berikan ASI ke anakku. Tapi, katanya belum bisa, karena tidak cocok-ki sama anaku. Jadi begini-mi terus anakku, kasian. Tulang-tulangnya melembek, tangan sama kakinya tidak bisa digerakkan,” kata Suhana, saat ditemui FAJAR.CO.ID di kediamannya, Senin, 6 September 2021.

Akibat tidak memiliki uang yang cukup, serta saran dokter yang tidak memperbolehkannya memberikan ASI yang cukup, Suhana hanya memberikan air beras. Dicampur sedikit gula sebagai pengganti susu formula untuk anak keduanya.

Padahal susu SGM Soya yang selalu direkomendasikan oleh dokter.

“Jangankan beli susu, uang hidup sehari-hari saja tidak ada kodong. Kita hidup pas-pasan, dikasih sama tetangga saja bersyukur miki. Suamiku kerjaannya hanya penarik becak motor (bentor), pendapatannya itu hanya lima sampai sepuluh ribuan per harinya,” lanjut Suhana sambil mengusap ubun-ubun RS, agar bisa tersadar.

Pelbagai doa-doa ia panjatkan agar anaknya bisa sadar. Sembari berharap adanya pertolongan dari pemerintah setempat yang datang, namun tak kunjung tiba. Padahal jarak rumahnya dengan kantor kelurahan dan kecamatan tidak lebih dari satu kilometer.

Sejam kemudian, selepas salat zuhur, anak bayinya itu baru tersadar. Namun sayang matanya melotot menatap ke langit-langit. Tatapannya sangat kosong. Begitupun dengan bibirnya yang selalu membiru mengeluarkan lendir yang begitu banyak.

“Selalu memang begini anakku kodong. Pokoknya itu setiap sepuluh menit kalau digendong-gendong-ki, selalu kejang-kejang dan tiba-tiba pingsan seperti ini. Itu pun lama sekali juga baru sadarkan diri. Kalau sadar-mi, ya, begini-mi juga kondisinya,” jelasnya sambil menunjukkan tatapan mata anaknya yang kosong dan menggerakkan tangan anaknya yang kaku.

Padahal anak keduanya ini baru saja beberapa hari lalu keluar dari RS Stella Maris. Suhana menceritakan saat di ruang ICU, anak keduanya ini tidak bisa bernapas. Bahkan harus menggunakan oksigen untuk membantu pernapasannya.

“Alhamdulillah adaji KIS ku. Bisaji dipakai sedikit-sedikit. Ada juga satu dokter itu baik sekali orangnya. Setiap habis kartu KIS ku dan selesai pengobatanku, na-isikanka KIS ku sama na-gratiskan-ka juga semua biaya perawatannya anakku,” tuturnya, sesaat air matanya keluar secara tidak sengaja.

Suhana harus bersabar bersama suaminya dengan keadaan. Sebab, ia tak punya cukup uang untuk mengobati anak-anaknya. Meski demikian, ia tetap bersyukur karena masih memiliki ayah dan ibu yang sangat menyanyanginya.

“Kita semua tinggal di sini. Berempat-ka bersaudara, semua sudah berkeluarga. Artinya ada lima KK bersama mamaku dan bapakku tinggal di rumahnya ini sama anak-anak dan keponakan bersama,” ungkapnya sambil menunjukkan rumah tinggal orang tuanya.

Rumah tinggalnya berada di sebuah lorong kecil di Jalan Kubis, wilayah Pasar Terong. Berdampingan dengan lorong Keluarga Berencana Kelurahan Wajo Baru, Kecamatan Bontoala.
Kendaraan tidak bisa masuk, hanya bisa berjalan kaki. Kondisi rumahnya pun sangat memprihatinkan. Lima belas anggota keluarga tinggal bersama di dalam rumah kecil yang berukuran mini dan serba terbatas.
Tidak adanya listrik dan air yang memadai membuat mereka harus bersabar diri sembari berharap ada bantuan dari pemerintah.

“Dari dulu-ji belum ada bantuan yang kami terima. Biar pun pembeli susu, kasian. Makan pun secukupnya. Apalagi ,untuk kebutuhan air, harus-ki beli air galon dan keran yang harganya lima ribu per liter. Itu pun dipakai bergantian untuk minum, cuci baju, ataupun mandi,” ujarnya.

Setelah melihat kondisi mereka, FAJAR.CO.ID langsung menghubungi Dinas Sosial (Dissos) dan Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Makassar sebagai instansi yang bertanggung jawab menangani kasus gizi buruk.

Plt Kepala Dinas Sosial (Dissos) Makassar Rusmayani Majid langsung menurunkan personel untuk mengecek ke lapangan.

“Terima kasih informasi-ta. Akan kami turunkan petugas untuk meninjau langsung, dan akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan yang memiliki program Home Care dalam penanganan medisnya,” bebernya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Diskes) Makassar Nur Saidah Sirajuddin pun melakukan tindakan yang cepat.

“Puskesmas akan turun melihat kondisinya, apabila harus dirujuk, maka segera dilakukan,” singkatnya. (dwi)

News Feed