by

Guru Honorer: Pahlawan yang Terlupakan

OLEH: Muhammad Tariq/ Pegiat Literasi dan Pemerhati Sosial

Semua lapisan pendidikan dimulai dari PAUD,TK, SD, SMP, SMA/sederajat, hingga perguruan tinggi sangat menetukan kecerdasan dari bangsa dan negara kita. Para Profesor tidak dengan ajaib mereka diberi gelar Profesor, mereka harus melalui tahap-tahapnya. Mereka dulunya belajar membaca, menghitung, dan berkarya dimulai dari PAUD hingga gelar Profesor kini telah disandangnya.

Ketika kita melihat betapa mulianya dan pentingnya seorang guru lantas apakah guru saat ini diposisikan sebagai salah satu profesi yang penting dari negara kita?. Maksudnya adalah apakah nasib mereka saat ini dijamin oleh negara setelah mereka berjuang untuk negara?. kalaupun ada apakah hanya mereka yang hanya menyandang status guru PNS saja?. Bagaimanakah dengan mereka yang menyandang status guru honorer?. Pada kenyataanya sekarang ini, mereka hanya diberi gajih yang pas-pasan dan mungkin kurang mencukupi kebutuhan hidupnya. Bahkan banyak guru honorer yang berinisiatif mencari pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan demi mencukupi kebutuhan hidupnya. Kondisi yang demikian sangat memprihatinkan. Masalahnya, dengan kejadian tersebut guru kurang fokus mengajar karena terbaginya tenaga dan pikiranya.

Seperti penulis rasakan dan amati yang terjadi, guru honorer adalah guru yang berstatus tidak tetap di sebuah sekolah atau yayasan. Tugas mereka hampir sama dengan tugas guru pada umumnya. Walaupun dalam mengajar, guru tetap memiliki jadwal mengajar sesuai dengan SK yang mereka dapatkan, namun tidak dengan guru honorer yang fleksibel dalam mengajar serta terkadang mengganti kelas kosong jika guru tetap berhalangan. Tidak banyak perbedaan yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Mungkin perbedaan yang nyata dari guru honorer dan guru tetap ada pada 3 hal pokok ini, yaitu status, perlakuan, dan kesejahteraan.

 Secara tidak sadar dan kasat mata, memang ada sebuah strata sosial yang tercipta dari sebuah sekolah. Walaupun tidak saling ejek satu sama lain, tetapi memang ini tercipta dengan sendirinya oleh mereka. Kasus yang sering terjadi adalah ketika yang merasa lebih tinggi meminta tolong kepada yang dirasa lebih rendah. Sialnya, mereka tidak bisa menolak walaupun tak ada imbalan apapun pada akhirnya. Menurut apa yang pernah saya alami dan tanyakan kepada beberapa guru honorer, mereka seringkali dimintai bantuan untuk melakukan sesuatu. Parahnya lagi, guru tetap juga menyuruh guru honorer untuk membuatkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) mereka. Ada yang dimintai tolong untuk menggantikan mengajar walau tidak dibayar. Sehingga banyak kasus yang membuat seorang guru honorer memiliki jadwal mengajar yang lebih dari apa yang formalnya ditugaskan.

News Feed