by

Curiga Ada Korupsi, Pakai Aplikasi Ini Melapor

KORAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR—Warga kini bisa melaporkan dugaan korupsi. Bisa melalui aplikasi, sehingga tak harus datang ke kantor polisi.

Direktur Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Sulsel, Kombes Pol Fedri Widoni menyebut akan ada aplikasi diluncurkan dalam waktu dekat ini. Sebagai upaya transparansi dan memudahkan masyarakat.

“Warga pendesaan, pedusunan bisa melporkan jika ada internet,” katanya, Jumat, 10 September 2021.

Aplikasi akan memudahkan masyarakat melayangkan pelaporan serta memantau perkembangan penyelidikan serta penyidikan sebuah perkara korupsi yang sedang ditangani. Selain itu, juga bertujuan untuk meminimalisir pelaporan yang berujung pada fitnah atau tindakan pencemaran nama baik serta adanya perlindungan saksi pelapor tindak pidana korupsi.

Masyarakat akan mudah mengaksesnya. Syaratnya, wajib memasukkan KTP, alamat jelas, serta mengirimkan surat elektronik dengan lampiran dokumentasi sekiranya ada. “Akan segera di-launching. Doakan,” katanya.

Sejauh ini, sebanyak 130 pengaduan masyarakat (dumas) yang masuk di Direktorat Reserse Kriminal Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulsel belum tertangani. Termasuk kasus korupsi.

Saat ini Polda Sulsel terus berupaya menyelesaikan kasus korupsi itu. Namun, menurutnya kasus korupsi itu tak semudah kasus lainnya.

Dalam penanganan kasus korupsi kata dia, itu tak hanya Polda. Namun ada stakeholder lain, seperti BPKP dan BPK. “Sehingga butuh waktu lama,” katanya.

Apalagi kata dia, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) kurang mendukung. Akibatnya sejumlah kasus ditarik kembali oleh Polda kemudian diserahkan ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI.

Contohnya kasus dugaan korupsi bantuan sosial (Bansos) Covid-19 Makassar dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Sulsel yang diserahkan ke BPK RI karena BPKP tak kunjung mengeluarkan hasil perhitungan kerugian negara. Akibatnya, Polda harus kembali menunggu dari BPK RI untuk kemudian bisa menetapkan tersangka.

Disamping itu, ada banyak laporan yang masuk. Bahkan ia mengaku tidak bisa menghafal kasus-kasus korupsi yang masuk. “Dumas yang belum tertangani itu ada 100 lebih. Hampir 130. Jadi yang ditangani saja saya hafal,” katanya.

News Feed