by

Keamanan Data di Era Digital

OLEH: Herbudiman Suandy/ASN BPS Provinsi Sulawesi Selatan

Isu keamanan data pribadi di era digital sekarang ini sudah saatnya menjadi perhatian. Terlebih lagi, beberapa waktu belakangan ini sering sekali kita baca/dengar berita tentang kebocoran data dari beberapa website jual beli atau bahkan data dari aplikasi-aplikasi milik pemerintah. Terbaru adalah, isu tentang bocornya 1,3 juta data dari aplikasi electronic Health Alert Card (eHAC).

Aplikasi eHAC ini adalah aplikasi wajib yang harus diisi oleh masyarakat ketika ingin bepergian keluar kota. Bocornya data eHAC ini juga ikut membawa kekhawatiran pada aplikasi PeduliLindungi yang dikeluarkan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), mengingat aplikasi tersebut dalam versi terbaru sudah terintegrasi dengan eHAC. Tentu saja, kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, jika eHAC hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang akan melakukan perjalanan dan diduga sudah bocor 1,3 juta data, maka jika aplikasi PeduliLindungi juga bocor maka bisa saja data yang beredar bisa jauh lebih banyak. Mengingat, aplikasi PeduliLindungi saat ini sudah seperti menjadi aplikasi wajib bagi masyarakat, apalagi untuk keperluan vaksinasi.

Data pribadi di zaman dahulu mungkin seakan tidak punya arti kecuali bagi individu yang bersangkutan atau orang-orang terdekatnya. Namun, saat ini data pribadi adalah ibarat aset yang bernilai tinggi. Walaupun mungkin data yang bocor tersebut tidak mengandung informasi sensitif seperti detail rekening bank atau kartu kredit, tetapi dengan beberapa data yang ada saja, maka pelaku kejahatan di dunia maya sudah sangat bisa menimbulkan ancaman di dunia nyata. Data tersebut sangat mungkin disalahgunakan untuk penipuan, pencurian, ataupun pelanggaran privasi.

Jika kita melihat maraknya kejahatan dunia maya sekarang ini tentu saja tidak lepas dari perkembangan dunia teknologi informasi yang sangat pesat. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik tentang Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) di Indonesia maka IP-TIK Indonesia pada tahun 2020 adalah 5,59. IP-TIK dapat digunakan sebagai suatu standar yang menggambarkan tingkat pembangunan TIK di suatu wilayah, kesenjangan digital, dan potensi pengembangan TIK. Nilainya berada pada rentang 0-10, dengan angka semakin tinggi menunjukkan pembangunan pesat. Pembangunan TIK di Indonesia yang cukup pesat ini juga didukung oleh pengguna smartphone dan tentunya akan berbanding lurus dengan pengguna internet. Laporan yang dirilis oleh Newzoo menunjukkan bahwa pengguna smartphone di Indonesia pada tahun 2020 sudah mencapai 58,6% dari total populasi dan menduduki peringkat empat dunia setelah Tiongkok, India dan Amerika Serikat. Dalam rilis yang lain, Statista memprediksi pengguna smartphone di Indonesia akan mencapai 89% populasi pada tahun 2025.

News Feed