oleh

Tangkap Pasangan Sejenis, Polisi Sita Alat Kontrasepsi

KORAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR— Pasangan sesama jenis diamankan polisi. Lokasinya di sebuah indekos, Jalan Inspeksi Kanal Bontolebang, Mamajang, Kamis malam, 16 September 2021.

Kanit Reskrim Polsek Mamajang Ipda Gunawan Amin mengatakan penangkapan ini bermula dari laporan warga setempat. Mereka resah mendengar suara ribut dari rumah indekos itu.

“Akhirnya personel melakukan giat untuk melakukan pengecekan di tempat tersebut. Ternyata saat dilakukan penggerebekan, satu pasangan sesama jenis yang berjenis kelamin laki-laki dewasa berjumlah tiga orang tertangkap basah melakukan hubungan terlarang,” katanya, Jumat, 17 September 2021.

Selain tiga orang yang berhubungan sesama jenis, ada dua orang perempuan dewasa dan dua orang laki-laki dewasa yang juga diamankan karena kumpul kebo di indekos yang sama.

Barang bukti yang diamankan di antaranya botol minuman keras dan alat kontrasepsi bekas pakai. “Jumlah orang yang kita amankan itu adalah tujuh orang. Dua pasangan normal. Satunya pasangan sesama jenis ditambah dengan muncikarinya,” imbunya.

Kasi Humas Polsek Mamajang Bripka Ilham menuturkan pasangan sesama jenis ini tidak bisa diberikan sanksi yang tegas dikarenakan belum ada undang-undang yang mengaturnya.

“Sanksi yang diberikan itu hanyalah pembinaan saja. Karena tidak ada pasal yang mengaturnya. Yang penting sudah diberikan surat pernyataan, kalau terulang dan tertangkap kembali, maka bisa dipidanakan,” tuturnya.

Pemerhati Perempuan dan Anak Makassar Andi Sri Wulandari membeberkan hubungan sesama jenis memang meresahkan masyarakat. Akan tetapi, saat ini belum bisa dilakukan penahanan, karena belum ada payung hukumnya.

“Setahu saya hubungan sesama jenis di Indonesia memang dilarang dalam konteks agama, akan tetapi tidak diatur dalam konteks hukumnya. Jadi agak sulit untuk diberikan penindakan hukum,” bebernya.

Selain itu, hal yang perlu dilakukan oleh kepolisian, sambung Wulan, yaitu melakukan konseling serta pendampingan mental agar yang bersangkutan tidak mengulanginya di kemudian hari.

“Secara orientasi gender, itu merupakan pilihan. Pilihan ini berawal dari pengalaman masa lalu mereka yang sangat memilukan. Bisa saja mereka awalnya adalah korban dari kekerasan seksual yang berakibta fatal pada kejiwaannya. Olehnya itu, jika semisal ingin melakukan pembinaan, polisi harus memberikan pendampingan psikis bagi mereka, bukan hanya pada proses membuat surat pernyataan saja,” tandas Wulan.

News Feed