oleh

Implementasi Blended Learning

Oleh: Mustari Mustafa/ Guru Besar Filsafat UIN Alauddin

Ahmad bin Abd Al-Halim bin Taymiyah atau lebih dikenal sebagai Ibn Taymiyah mengingatkan, kelestarian manusia dapat dijaga dengan ilmu. Kehampaan ilmu akan menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan, keterbelakangan, kemiskinan, dan kelemahan. Pernyataan Ibn Taymiyah yang sebagian besar karyanya sudah terhimpun dalam Majma Fatwa Ibn Taymiyah berjumlah 37 jilid dihimpun oleh Abdurrahman Ibn Muhammad Ibn Kasim ini menarik.

Ilmu, berupa perseptual, konseptual serta partikular, umumnya merupakan pengetahuan teratur dan tidak muncul secara mendadak serta dikembangkan secara ilmiah-etis. Jenis, asal serta strategi ilmu seperti inilah yang akan melahirkan kecerdasan, yang pada gilirannya memiliki daya lestari atau menyelamatkan generasi manusia itu. Masa waktu perhatian terhadap menyelamatkan manusia dengan kecerdasan, seusia dengan manusia sendiri. Sejak Nabi Adam hingga saat ini pengajaran dan pembelajaran merupakan bagian pembukaan hidup yang langsung mengadang di depan mata. Pesannya ialah siapa yang gagal –apalagi menghindari pengajaran dan pembelajaran itu– akan tersesat dalam semua tempat hidupnya.

Di masa sulit karena pandemi covid-19 ini, tentu tidak mudah menjalankan kegiatan pengajaran dan pembelajaran, di mana kebutuhannya sangat kompleks. Ada kebutuhan kompetensi yang terdiri atas ranah kognisi (aktivitas intelektual mulai dari level pengetahuan hingga level evaluasi), kemudian ranah afeksi (sikap dan perilaku), dan ranah psikomotor (skill atau keterampilan). Ada juga kebutuhan berupa sarana (biaya dan alat) serta metode (interaksi belajar). Keinginan untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan itu diperhadapkan dengan pembatasan dan protokol kesehatan, mudah sekali untuk mengatakan mari belajar dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan, namun idealitas belajar yang menghendaki adanya interaksi terbuka (bukan online) harus mengikuti pelajaran covid-19.

Blended Learning/BL(Radames Bernath, 2012) sebagai sebuah kombinasi dari pertemuan langsung dan ruang kelas digital (e-learning), merupakan pilihan yang perlu dipertimbangkan. Model ini membagi sistem pengajaran selama satu semester menjadi tiga fase utama, yaitu: Fase 1 (70 persen rencana belajar-mengajar ditujukan untuk proyek pengembangan keahlian, yaitu kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan berpikir kritis), Fase 2 (20 persen pertemuan dengan dosen/mentor untuk tujuan bimbingan), dan Fase 3 (10 persen pertemuan tradisional di dalam kelas untuk menjelaskan teori/konsep utama dalam mata pelajaran). Para pengajar dan lembaga pengajaran dapat  mengadaptasikan strategi ini dengan 4 pilihan utama, yaitu: 1) BL+ face to face, 2) BL+online, 3) BL+flipped learning, 4) BL+flexible learning.

News Feed