oleh

Learning Loss: Menembus Pendidikan, Harus Bagaimana?

Oleh: Mufidatunnisa/ Penggerak Literasi Pendidikan

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan sebuah laporan jika adik saya, menyelesaikan ujian matematikanya hanya dalam kurun waktu 30 menit. Bukan jenius, namun perpaduan rasa jenuh dan muak membuatnya menyerah. Saat menanyakan alasannya, salah satu hal yang menurut saya cukup menggelitik adalah bagaimana Ia membandingkan anggapan learning loss teman-temannya dengan dirinya. Learning loss adalah keadaan dimana kompetensi siswa semakin menurun. Kemampuan membaca, menulis, analisis  yang terkikis perlahan menjadi tolok ukurnya.

Selama pandemi, Pesantren adik saya memang telah mendapat izin untuk belajar secara luring. Sementara, sekolah lain masih harus tetap berdamai dengan pembelajaran online. Inilah yang menjadi akar kemalasan ketika libur Ramadhan beberapa bulan lalu. Ia tak ingin diganggu dengan tetek bengek belajar untuk ujian. Ia merasa, teman-temannya di luar sana lebih tertinggal karena harus berjibaku dengan tetek bengek sekolah daring. Jadi, bukan suatu kewajiban menurutnya untuk terlalu serius belajar jika siswa di luar sana masih bebas “liburan” sambil sekolah.

Meski telah terjun di dunia pendidikan beberapa tahun, saya masih merasa gagal menangani kasus sendiri. Ada kesedihan yang mendalam yang saya rasakan ketika learning loss dipandang sebagai suatu hal yang wajar bagi siswa. Privilese kesempatan belajar luring sudah tidak dipandang sebagai suatu nikmat.  Namun menjadi pembanding yang tak ada habis-habisnya. Ada yang belum sepenuhnya sadar, bagaimana siswa di luar sana yang tak memiliki gawai dan akses teknologi harus gigit jari ketika kerinduan belajar menghampiri.  Belum lagiketika rasa ingin tahusiswa telah memuncak, namun keadaan menghempaskan mereka untuk membantu perekonomian keluarga. Hal ini diperkuat dari data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), bahwa PJJ saat ini menimbulkan kesenjangan pendidikan antara kelompok mampu dan tidak mampu. Namun, mirisnya, anak-anak yang memiliki privilese pun juga masih banyak mengalami demotivasi.

Bagi pendidik dan orang tua, risiko learning loss  pun senantiasa menghantui kepala. Setiap membuka mata di pagi hari, setiap membayar iuran sekolah, setiap mempersiapkan bahan ajar, ada ketakutan akan masa depan anak atau peserta didik yang sedang diajar. Apalagi mengingat bagaimana kurikulum darurat harus dijadikan penyangga agar proses pembelajaran tetap berjalan.

News Feed