oleh

FIB Unhas Webinar Diaspora: Peluang dan Tantangan Kajian

KORAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR  —  Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin menyelenggarakan webinar Diaspora Series ke-15 dengan tema “Peluang dan Tantangan Kajian Budaya”.

Kegiatan yang menghadirkan Dr. Surya Suryadi (Dosen Senior, Universitas Leiden, Netherland) sebagai narasumber, berlangsung secara virtual melalui aplikasi zoom meeting, Sabtu (25/9).

Dekan FIB Unhas Prof. Dr. Akin Duli, MA., menjelaskan bahwa kajian budaya telah membawa pengaruh penting dalam memahami kebudayaan. Mengkaji budaya berarti harus berani mendefinisikan kembali kebudayaan sebagai sebuah proses pemaknaan.

Pada era teknologi industri 4.0, tantangan dan peluang dalam mengkaji kebudayaan dirasakan oleh berbagai kelompok masyarakat. Prof. Akin berharap webinar ini menjadi satu forum yang bermanfaat untuk memahami secara mendalam tentang kajian budaya era digital.

Kegiatan resmi dibuka Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Unhas, Prof. dr. Nasrum Massi, Ph.D. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan kegiatan tersebut terlaksana selain sebagai wadah pengembangan keilmuan, juga salah satu langkah strategis  memperluas dan membangun kemitraan untuk mendukung capaian Unhas dalam WCU.

Prof. Nasrum juga memberikan apresiasi webinar dengan tema dan narasumber yang kompeten. Menurutnya, aspek kajian budaya era 4.0 sangat penting untuk dibahas bersama. Bagaimana melihat posisi kebudayaan pada masa digitalisasi seperti sekarang. Tidak hanya itu, beliau juga memberikan penjelasan tentang berbagai capaian Unhas dalam WCU.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Surya Suryadi sebagai narasumber menjelaskan peluang dan tantangan kajian budaya. Beliau mengatakan, kajian budaya merupakan kawasan pluralistik dari berbagai perspektif yang bersaing, lewat produksi teori, berusaha mengintervensi politik budaya. Kajian budaya juga mengekplorasi kebudayaan sebagai praktik pemaknaan dalam konteks  kekuatan sosial.

Pada era modern, banyak ilmuwan mengakui adanya sesuatu yang disebut the other (yang lain) dalam peradaban kemanusiaan. Realitas tersebut merupakan paradigma baru dalam kajian budaya. Hal seperti ini bukan tidak mungkin merupakan suatu bentuk pasca-antropologi dan sosiologi.

“Saat ini, kita dihadapkan pada berbagai tantangan dalam kajian budaya. Saya melihat perlunya dikembangkan studi art dan performance studies yang memberi peluang bagi generasi kita untuk mengembangkan keilmuan mereka. Pada hakikatnya, kajian budaya adalah kajian pada dirinya sendiri, agar tidak jatuh pada subyektivitas. Peneliti harus kritis agar tidak jatuh pada pandangan pribadi dalam melihat suatu kebudayaan,” jelas Dr. Suryadi.

News Feed