oleh

Fakultas Teknik Unhas Gelar Symposium on Railway Technologi and Development

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR –- Fakultas Teknik (FT) Universitas Hasanuddin menyelenggarakan the 2nd EPI Innovation Week 2021 bertajuk “Internasional Symposium on Railway Technology and Development”.   Berlangsung dan terhubung secara virtual melalui aplikasi zoom meeting dan siaran langsung di Kanal Youtube Teknik Unhas, Senin (27/9).

Simposium yang merupakan rangkaian Dies Natalis ke-61 Fakultas Teknik Unhas, menghadirkan 11 pembicara yang berasal dari bidang transportasi, perencanaan wilayah, pengambil kebijakan, dan perkeretaapian.  Forum ini menjadi ajang mendiskusikan berbagai isu terkait perkeretaapian di Indonesia, yang sangat penting untuk mencermati rencana pengoperasian kereta api di Sulawesi Selatan.  

Ketua Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (MASKA), Dr. Ir. Hermanto Dwiatmoko, MSTR, IPU ASEAN Eng., yang hadir sebagai salah seorang narasumber menjelaskan bahwa pembangunan transportasi umum harus memenuhi kriteria yang terintegrasi secara fisik, jadwal dan pembayaran, memberikan pelayanan yang mudah diakses dengan penerapan sistem yang dapat diandalkan.

Selain itu, untuk mendorong perubahan budaya masyarakat dalam menggunakan transportasi pribadi menuju penggunaan transportasi umum, maka sangat perlu mementingkan dan membenahi aspek dasar transportasi umum, yakni aman, nyaman dan selamat. Selain itu, juga penting untuk memberikan penawaran harga tiket yang terjangkau. Sehingga peralihan secara efektif dapat membantu mengurangi biaya pengeluaran dibanding kendaraan pribadi.

Dengan demikian, akan berdampak pada menurunnya tingkat pencemaran atau polusi udara di kota besar. Akan tetapi hal ini perlu didukung dengan penggunaan transportasi ramah lingkungan yang sehat dan bersih, misalnya dengan menggunakan kereta api sebagai moda transportasi yang efisien dapat menghemat waktu tempuh.  Dalam pengembangannya, teknologi kereta api semakin mengalami perubahan dengan menggunakan tenaga listrik untuk menjalankan kereta.

“Kita perlu menentukan teknologi transportasi yang sesuai dengan kondisi kota, beberapa kategori fasilitas kereta api, yakni pada angkutan kereta api ringan seperti pemilihan monorel dan LRT, sedangkan untuk rel berat pada penggunaan MRT dan HSR,” jelas Dr. Hermanto.

Narasumber dari Mass Rapid Transport (MRT) Jakarta, yang diwakili oleh Weni Maulina (Kepala Departemen Engineering PT. MRT Jakarta) memaparkan tentang penggunaan transportasi massal serta kontribusinya terhadap penurunan polusi udara, berdasarkan pengalaman dari Jakarta.  Berdasarkan data, 80% kendaraan berkontribusi pada polusi udara, dimana 43% emisi bersumber dari sektor transportasi yang diperkirakan mencapai sekitar 25.000 ton per tahun.

News Feed