oleh

Seni Memahami Alzheimer

OLEH: Dito Anurogo/ Dosen FKIK Unismuh Makassar

Biaya kesehatan global karena penyakit Alzheimer diperkirakan lebih dari USD6 miliar. Pada tahun 2050, di Amerika Serikat, penyakit ini diperkirakan menelan biaya lebih dari USD1 triliun. Ironisnya lagi, setiap 66 detik, satu orang di Amerika Serikat terdiagnosis Alzheimer. Inilah sebagian alasan mengapa setiap tanggal 21 September diperingati sebagai Hari Alzheimer Sedunia.

Menurut studi epidemiologi, risiko terkena Alzheimer menjadi dua kali lipat setiap lima tahun setelah berusia 65 tahun. Setelah usia 85 tahun, insiden tahunan sekitar 10 persen. Studi prevalensi menyatakan bahwa diperkirakan 5,4 juta penduduk Amerika terkena demensia Alzheimer, 3 persen populasi tersebut berusia 65-74, 17 persen di antara 75-84, dan 32 persen berusia 85 tahun atau lebih. Perempuan lebih berisiko menderita Alzheimer dibandingkan pria.

Demensia adalah sindrom yang ditandai dengan hilangnya secara progresif keterampilan kognitif yang telah diperoleh sebelumnya, termasuk memori, bahasa, wawasan, dan penilaian. Penyakit Alzheimer diprediksi mendominasi 50-75% kasus demensia.

Di masa pandemi Covid-19 ini, angka kematian akibat Alzheimer dan demensia meningkat sekitar 16 persen. Satu orang di dunia terdiagnosis demensia setiap tiga detik. Di Indonesia, terdapat 1,2 juta jiwa penderita demensia di tahun 2016. Angka ini diprediksi meningkat di tahun 2030 menjadi 2 juta jiwa dan di tahun 2050 menjadi 4 juta jiwa.

Para ilmuwan menganggap fase preklinis penyakit Alzheimer sebagai fase seluler. Perubahan pada neuron, mikroglia, dan astroglia membuat penyakit berkembang sebelum terjadinya gangguan kognitif. Neuroinflamasi (peradangan saraf), perubahan pembuluh darah, disfungsi sistem glimfatik (sistem pembersihan sampah makroskopis) bertindak ke hulu atau paralel untuk mengakumulasi beta amiloid di dalam lanskap penyakit seluler ini.  Amiloid beta menginduksi penyebaran tau patologi, yang terkait dengan kemunculan marker (penanda) nekroptosis pada neuron yang menunjukkan degenerasi granulovakuolar.

Sejarah

Terminologi ‘demensia’ muncul pertama kali dalam catatan umat manusia sekitar tahun 600 M. Santo Isidore (560–636 M), uskup agung Seville, menggunakan istilah ‘demensia’ untuk pertama kalinya dalam bukunya, Etymologies.   Tragedi demensia telah terjadi dalam sejarah manusia jauh sebelum dinamai. Pada sekitar 2000 SM, orang Mesir kuno sudah menyadari bahwa ingatan menurun seiring bertambahnya usia.

Pythagoras (570-495 SM), seorang dokter dan ahli matematika berkebangsaan Yunani, mengklasifikasikan masa hidup manusia menjadi enam tahap; masa bayi (usia 0-6), remaja (usia 7-21), dewasa (usia 22-49), masa paruh baya (usia 50-62), masa tua atau senescence (usia 63-79), dan masa lansia atau old age (usia 80 atau lebih). Dari tahap-tahap ini, penuaan dan usia tua dianggap sebagai fase degenerasi jiwa dan raga. Mayoritas orang yang mampu survive hingga usia 80 tahun atau lebih, diprediksi pikirannya akan menurun hingga serupa bayi dan akhirnya tidak dapat berpikir. Hal ini sesuai dengan Alquran surah Yasin ayat ke-68. Intinya, bila seseorang dipanjangkan usianya, maka Allah akan mengembalikan keadaannya menjadi lemah, seperti bayi.

Thomas Wilis (1621-1675) seorang dokter, menciptakan ‘neurologi’ sebagai istilah. Dia pertama kali menggambarkan demensia vaskular secara akademis dalam bukunya, ‘De Anima Brutorum’. Di Zaman Modern, demensia sebagai diagnosis awalnya diterima sebagai istilah medis pada tahun 1797 oleh Philippe Pinel (1745–1826), seorang dokter di Prancis.

Otto Ludwig Binswanger (1852-1929) dari Swiss telah melakukan penelitian tentang neurosifilis, yang merupakan salah satu penyebab demensia, bersama Alois Alzheimer (1864-1915). Dia melaporkan beberapa bentuk demensia vaskular pada tahun 1894. Dalam laporan ini, istilah ‘demensia presenile’ muncul pertama kali. Jenis demensia ini disebut penyakit Binswanger oleh Alzheimer di tahun-tahun berikutnya.

Potret Klinis

Ada setidaknya sepuluh potret klinis Alzheimer yang perlu diwaspadai (alz.org, 2021). Pertama, kehilangan memori yang mengganggu kehidupan sehari-hari. Salah satu tanda paling sering dari penyakit Alzheimer, terutama pada tahap awal, adalah melupakan informasi yang baru saja dipelajari. Penderita bisa juga melupakan tanggal atau acara penting, menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang, serta menjadi semakin bergantung pada alat bantu memori (misalnya, catatan pengingat, buku harian,  perangkat elektronik) atau anggota keluarga untuk hal-hal yang biasa mereka tangani sendiri. Bedanya dengan orang-orang normal yang berusia lanjut, mereka terkadang lupa nama atau janji bertemu, namun dapat mengingatnya kemudian.

Kedua, menghadapi tantangan dalam merencanakan atau memecahkan masalah. Maksudnya, sebagian orang yang hidup dengan Alzheimer boleh jadi mengalami perubahan dalam kemampuan mereka untuk mengembangkan dan mengikuti rencana atau bekerja dengan angka. Mereka sulit berkonsentrasi dan perlu waktu lebih lama untuk melakukan sesuatu daripada sebelumnya. Mereka sulit meracik resep yang sudah dikenal sebelumnya atau melacak tagihan bulanan. Bedanya dengan para lansia sehat, mereka terkadang membuat kesalahan saat mengelola keuangan atau membayar tagihan rumah tangga.

Ketiga, kesulitan menyelesaikan tugas atau rutinitas harian yang sudah biasa dikerjakan. Para penderita Alzheimer merasa kesulitan untuk menyelesaikan tugas sehari-hari. Terkadang mereka mengalami kesulitan mengemudi menuju lokasi yang sudah dikenal, mengingat dan menuliskan daftar belanjaan, atau mengingat peraturan permainan favorit. Para lansia normal terkadang perlu bantuan untuk menggunakan microwave atau untuk menyetel acara TV.

Keempat, sering merasa kebingungan dengan orientasi waktu dan/atau tempat. Orang-orang yang hidup dengan Alzheimer mudah sekali lupa atau bingung akan tanggal, musim, ruang. Terkadang mereka lupa di mana mereka berada atau bagaimana mereka sampai di sana. Lansia normal bisa saja lupa atau bingung tentang kejadian, atau nama hari dalam seminggu, namun bisa segera mengingatnya.

Kelima, kesulitan memahami gambar visual dan hubungan spasial (ruang). Bagi sebagian orang, gangguan penglihatan merupakan tanda Alzheimer. Hal ini menyebabkan gangguan keseimbangan atau kesulitan membaca. Mereka boleh jadi memiliki masalah dalam memprediksi jarak dan menentukan gradasi-gradien warna atau kontras, yang menyebabkan problematika mengemudi. Pada lansia normal, gangguan penglihatan umumnya terkait erat dengan katarak.

Keenam, problematika pemilihan diksi saat berbicara atau menulis. Orang yang hidup dengan Alzheimer sulit mengikuti atau bergabung dalam percakapan. Mereka dapat berhenti di tengah percakapan dan tidak tahu bagaimana melanjutkannya atau mereka mungkin mengulanginya sendiri. Mereka sulit memilih diksi, perbendaharaan kata, atau mengalami kesulitan menamai objek yang dikenalnya atau menggunakan sinonim yang tidak umum. Misalnya, menyebut “kalung” sebagai “perhiasan di leher”. Lansia normal terkadang juga mengalami kesulitan menemukan kata yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu hal.

Ketujuh, salah meletakkan barang dan kehilangan kemampuan untuk menemukannya kembali. Penderita Alzheimer dapat meletakkan barang-barang di tempat yang tidak biasa. Mereka bisa jadi sering merasa kehilangan barang dan tidak dapat menelusurinya kembali. Mereka bisa saja menuduh orang lain mencuri, terutama saat penyakitnya kambuh. Lansia normal juga sering salah meletakkan barang namun mampu menemukan kembali setelah mengingat langkah-langkah secara kronologis.

Kedelapan, penilaian atau pengambilan keputusan yang buruk atau menurun. Individu dengan Alzheimer berubah dalam penilaian atau pengambilan keputusan. Misalnya, cenderung menilai buruk terkait finansial, sulit memutuskan saat memilih baju usai mandi, kurang bisa menjaga kebersihan atau penampilan diri. Lansia normal sesekali membuat keputusan keliru atau terkadang lupa hal-hal kecil, misalnya servis mobil di hari libur, mengajak rekreasi keluarga di hari kerja.

Kesembilan, menarik diri dari rutinitas, pekerjaan, atau kegiatan sosial. Individu dengan Alzheimer boleh jadi mengalami perubahan psikologis atau enggan terlibat lagi dalam hubungan sosial. Akibatnya, dia tidak lagi melakukan aktivitas, hobi, atau keterlibatan keseharian dan sosiokultural lainnya. Lansia normal juga terkadang merasa tidak tertarik lagi dengan pertemuan keluarga dan aktivitas sosial.

Kesepuluh, perubahan suasana hati dan kepribadian. Individu dengan Alzheimer berpotensi mengalami perubahan tabiat dan personaliti. Mereka bisa saja mendadak seperti bingung, curiga, depresi, takut atau cemas. Mereka bisa jadi mudah marah saat berada di rumah, atau ketika bersama pasangan, sahabat, kerabat, tetangga, juga saat keluar dari zona nyaman. Lansia normal bisa jadi mengembangkan cara yang sangat spesifik dalam melakukan sesuatu dan menjadi mudah tersinggung bila rutinitasnya terganggu.

Diagnosis

Beberapa uji terstandar digunakan para klinisi untuk menilai domain tertentu pada pasien Alzheimer. Untuk menilai kemampuan premorbid, maka dokter akan menggunakan uji perbendaharaan kata (WAIS-IV). Untuk menilai memori verbal, dokter menggunakan tes memori logis (dari WMS-IV). Untuk menilai memori visual, dokter menggunakan RCFT (Rey Complex Figure Drawing Test). Untuk menilai bahasa, dokter menggunakan COWAT (Controlled Oral Word Association Test). Untuk menilai fungsi eksekutif, dokter menggunakan WCST (Wisconsin Card Sort Test). Untuk menilai visuospasial, dokter menggunakan uji menggambar jam (Clock Drawing Test). Untuk menilai fungsi motorik, dokter menggunakan Grooved Pegboard Test. Untuk menilai suasana hati (mood), dokter dapat menggunakan GDS (Geriatric Depression Scale), BAI (Beck Anxiety Inventory), atau HDRS (Hamilton Depression Rating Scale).

Uji status mental juga dapat dilakukan sesuai rekomendasi dokter, dan sebaiknya mencakup tes yang menilai beberapa fungsi kognitif, seperti: orientasi, perhatian, ingatan verbal, bahasa, dan visuospasial. Tentang orientasi, mintalah agar pasien untuk menyebutkan hari, tanggal, bulan, tahun, dan tempat serta menyebutkan nama presiden Indonesia saat ini.

Untuk menguji perhatian, mintalah agar pasien dapat melafalkan nama bulan-bulan dalam setahun, secara urut dari Januari, lalu mundur dari Desember. Untuk menguji ingatan verbal, mintalah agar pasien mengingat tiga hal. Lalu tes untuk mengingat kembali setelah 1 dan 5 menit.

Untuk menguji bahasa, mintalah pasien agar menulis, lalu membaca sebuah kalimat. Untuk menguji visuospasial, mintalah pasien untuk menggambar jam dan menyetel jarum jam pada pukul 11:10.

Pencegahan

Kesehatan jantung ternyata memengaruhi kesehatan kepala. Maksudnya, penyakit jantung dapat meningkatkan risiko terkena penyakit Alzheimer. Kondisi lain yang menyebabkan penyakit jantung juga berisiko tinggi menjadi Alzheimer, termasuk tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, gaya hidup sedentari (malas gerak, minim aktivitas). Penyakit jantung juga menjadi penyebab demensia vaskuler, sebagai hasil dari penyempitan pembuluh darah di otak. Hal ini memicu penurunan oksigen di jaringan otak. Oleh karena itu, upaya pencegahan Alzheimer seiring dengan program pencegahan penyakit jantung. Alzheimer juga mudah dicegah dengan beragam aktivitas. Misalnya: rajin membaca kitab suci sejak dini, selalu menjaga otak tetap aktif. (*)

News Feed