oleh

Pandemi dan Lost Generation

Oleh: Hairuddin K/Wakil Rektor IV Unimerz

Pada 11 November 2020, UNICEF menerbitkan laporan berjudul “Averting a Lost COVID Generation”. Pada dasarnya berisi langkah-langkah kerja perlindungan terhadap anak-anak akibat pandemi, salah satunya di bidang pendidikan. 

Lost Generation berkaitan kurangnya akses peserta didik ke dunia pendidikan akibat pandemik. Fenomena ini menimpa peserta didik di negara-negara dengan tingkat ekonomi rendah.

Ketidakseimbangan ekonomi global telah menciptakan ketidakseimbangan pembangunan teknologi termasuk teknologi digital. Salah satu masalah yang menimpa low income countries adalah kesulitan memperluas akses pengajaran daring.

Apa yang terjadi secara global tak berbeda jauh dengan kondisi di Indonesia. Ketimpangan pembangunan antar wilayah secara ekonomi juga turut memengaruhi kualitas pendidikan era Covid-19. Di wilayah-wilayah miskin di tanah air, pengajaran daring sangat sulit dilaksanakan, sebab memerlukan syarat kecukupan infrastruktur digital untuk mengakses internet. 

Data Statistik Pendidikan 2020 menyatakan bahwa partisipasi Indonesia sejak 2000 dalam survei PISA (Program for International Student Assessment), menunjukkan sistem pendidikan Indonesia telah berubah menjadi lebih inklusif, terbuka, dan meluas aksesnya (Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, 2020).

Namun, skor rata-rata PISA Indonesia pada 2018 menurun di tiga bidang kompetensi dibandingkan 2015. Yaitu bidang kompetensi membaca, matematika, dan sains (BPS, 2020:4)

Fenomena pandemik Covid-19 memberikan pengaruh bagi penurunan kualitas pendidikan di Indonesia. Tidak meratanya literasi digital menimbulkan permasalahan pada kemampuan pendidik dan peserta didik dalam memanfaatkan teknologi digital.

Faktor lainnya, jaringan internet di Indonesia belum merata. Peserta didik di perkotaan tentu saja memiliki jaringan internet yang jauh lebih bagus dibanding di pedesaan.Ketidakhadiran dalam proses belajar di era pandemik menjadi sesuatu yang tak terhindarkan.

Jaringan internet yang tidak merata membuat sebagian peserta didik menghadapi kendala dalam mengikuti mata pelajaran. Maksimalisasi program pembelajaran online telah dilakukan Kemendikbud Ristek antara lain: Akses pembelajaran diperluas dengan bekerja sama TVRI dan pemberian kuota gratis.

Kendala utama pengajaran online yang termasuk mendadak karena adanya pandemik adalah terjadinya cultural lag (ketertinggalan budaya). Cultural lag oleh William F. Ogburn sebagai “Perkembangan Sosiokultural tidak selalu sama cepatnya dengan sikap mental masyarakat, sikap masyarakat belum siap secara mental dalam mengikuti perubahan”.(Nursyifa, 2018:4).

News Feed