oleh

Bisnis Event Tancap Gas

*Potensi Pendapatan Rp500 M

FAJAR, MAKASSAR-Kegiatan besar sudah mulai bangkit kembali. Pelaku bisnis Event Organizer (EO) langsung tancap gas mengejar pendapatan yang hilang.Beberapa event yang sudah digelar di antaranya konser musik, pameran dagang, acara pernikahan, hingga kegiatan pemerintahan.

Pelonggaran kegiatan masyarakat tentu berefek positif bagi perekonomian. Tanda-tanda pemulihan mulai terasa. Menggeliatnya perekonomian juga mendorong pertumbuhan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). Apalagi sektor ini menjadi andalan sektor perhotelan dan EO untuk mendongkrak pendapatan.

Ada potensi pendapatan Rp500 miliar hingga Rp700 miliar dari sektor MICE. Sangat besar jumlahnya. Pemulihan ini diharapkan dapat menjadi mesin penggerak kegiatan ekonomi dan memberikan dampak turunan positif kepada sektor lain. Jika pandemi ditangani dengan baik, ekonomi akan lebih cepat pulih. Namun dengan catatan, pelaku usaha dan pemerintah harus bekerja sama memerangi Covid-19.

“Saat ini Makassar sudah PPKM Level dua, pandemi terkendali. Ini karena dukungan pelaku usaha dan masyarakat juga,” ujar Iqbal Asnan, Plt Kasatpol PP Kota Makassar, saat talkshow Economic Talk di Hotel Teraskita, Kamis, 18 November. Ketua DPD Indonesia Event Industry Council (Ivendo) Sulsel, Faizal Rizky Tawil optimis sektor usaha event organizer bisa reborn dengan membaiknya penanganan Covid-19. Meski pada akhir tahun akan kembali PPKM Level 3, namun itu hanya sebentar. “Kita dukung pemerintah sebab ini untuk kebaikan jangka panjang. Supaya ekonomi normal kembali,” ujar Faizal. Dia optimis pendapatan Rp500 miliar hingga Rp700 miliar dari MICE akan didapatkan kembali tahun depan. Ia menuturkan, pelaku usaha EO terus beradaptasi di era kebiasaan baru. Jadi strategi diubah, tetap berkegiatan tapi tidak berkerumun. “Tapi daripada tidak ada sama sekali maka kita tutupi dulu operasional. EO akan kembali, butuh waktu saja,” tuturnya. Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel, Ari Pakki, mengatakan, cara mengatasi pendapatan yang hilang itu pihaknya melakukan pengetatan pada biaya operasional termasuk pada pengeluaran tenaga kerja. Contohnya yang paling jelas dilakukan, lanjut dia, jika dulu hotel jika berbelanja menggunakan supplier, kini hotel melakukan belanja langsung ke pasar. Hal itu dapat menghemat puluhan juta. “Dari selisih itu lumayan untuk membayar biaya listrik, operasional dan sumber daya manusia dan sebagainya. Makanya salah satu yang kita siasati dari sisi itu. Juga membangun kreativitas agar hotel bisa membiayai dirinya sendiri,” katanya. Dengan strategi itu, ia mengaku belum bisa menutupi pendapatan yang hilang. Meski bersyukur saat ini sudah ada tanda-tanda pemulihan. “Kemudian pemerintah melakukan belanja dan memberikan akses terhadap industri perhotelan, wedding juga sudah bergairah. Jadi pemulihan ini mulai ada,” katanya. (*/dir)

Komentar

News Feed